Napoli menelan kekalahan 0-1 dari Venezia dalam lanjutan Serie A, dan hasil itu langsung memantik tekanan terhadap Massimiliano Allegri di Napoli. Venezia, tim yang sebelumnya belum meraih satu poin pun, justru keluar sebagai pemenang lewat gol Akor Adams. Bagi Napoli, ini bukan hanya kehilangan tiga poin, tetapi juga pukulan terhadap kredibilitas proyek baru Allegri.
Kekalahan ini penting karena Venezia datang dengan pelatih baru, Davide Nicola, setelah Giovanni Stroppa dipecat. Allegri sendiri baru menggantikan Antonio Conte pada musim panas dan sudah menelan lima kekalahan dari sembilan laga. Dalam konteks itu, kalah dari tim tanpa poin membuat posisi Allegri di Napoli mulai dipertanyakan.
Jalannya Laga: Venezia 1-0 Napoli
Venezia tampil sabar dengan blok rendah dan menolak keluar dari posisi. Mereka menunggu Napoli dan tidak memberi ruang mudah di area pertahanan. Strategi itu membuat Napoli menguasai bola, tetapi kesulitan membongkar pertahanan dengan cara yang bersih.
Peluang emas datang pada awal babak kedua dari bola panjang Simon Sohm ke sisi kiri. Sundulan bek Napoli Amir Rrahmani tidak sempurna dan bola jatuh ke Akor Adams, yang mengambil satu sentuhan sebelum melepaskan tembakan dari tepi kotak penalti. Bola melewati Alex Meret dan membawa Venezia unggul.
Napoli bereaksi dengan memasukkan Kevin De Bruyne, Alisson Santos, dan Rasmus Højlund dari bangku cadangan. Namun kiper Venezia Filip Stankovic menjadi tembok: ia menepis penalti De Bruyne, melakukan penyelamatan satu tangan spektakuler dari Stanislav Lobotka, dan menggagalkan peluang Alisson pada menit ke-90. Laga berakhir 1-0, kemenangan pertama Venezia musim ini dan awal impian bagi Nicola.
Latar Belakang: Venezia Ganti Pelatih, Napoli Pilih Allegri
Venezia memasuki musim ini dengan catatan buruk: enam kekalahan dalam enam putaran pertama, satu-satunya tim di divisi tersebut tanpa kemenangan bahkan tanpa poin. Pada musim 2024-25, saat terakhir kali bermain di Serie A, mereka finis di posisi ke-19. Sebelumnya, pada 2021-22, Venezia mengakhiri musim di dasar klasemen.
Kekalahan 1-3 dari Atalanta setelah jeda internasional mendorong Venezia ke titik puncak. Klub memecat Giovanni Stroppa, pelatih yang membawa mereka juara Serie B dan promosi musim sebelumnya. Venezia lalu menunjuk Davide Nicola, spesialis penyelamatan tim dari degradasi, meski penunjukan terakhirnya di Cremonese berakhir dengan pemecatan pada Maret ketika tim berada di posisi ke-18.
Nicola langsung dilempar ke laga sulit: debutnya terjadi di kandang melawan Napoli, runner-up musim lalu. Namun pria yang pendekatan bertahan hidupnya sering disamakan dengan Harry Houdini itu tidak gentar. Ia menyusun Venezia dengan sabar dan disiplin, lalu memetik hasil saat kesempatan datang.
Di sisi lain, Allegri ditunjuk menggantikan Antonio Conte pada musim panas. Conte pergi setelah menilai skuad berbeda pandangan dengan pemilik Aurelio De Laurentiis, meski kontraknya masih berjalan. Napoli disebut telah membelanjakan lebih dari 150 juta euro pada bursa transfer 2025 dan 2026, termasuk Lorenzo Lucca, Sam Beukema, dan Noa Lang, plus 60 juta euro untuk mempermanenkan Højlund dan Alisson.
Dampak bagi Allegri di Napoli: Rotasi dan De Bruyne
Napoli sebenarnya bisa dibilang kurang beruntung. Mereka menciptakan cukup banyak peluang, Stankovic tampil luar biasa, dan Juan Jesus melakukan tekel penyelamatan di menit akhir untuk menggagalkan Højlund yang sudah menyambut bola di depan gawang kosong. Namun penampilan Venezia yang disiplin membuat peluang-peluang itu tidak cukup untuk menyelamatkan Napoli.
Pergantian Allegri memang mengubah jalannya pertandingan. De Bruyne memulai peluang Højlund dengan merebut bola dari Ridgeciano Haps di lini tengah dan mengirim umpan ke Alisson, yang kemudian melepaskan crossing bagus. Pertanyaannya, mengapa para pemain itu duduk di bangku cadangan sejak awal? Apakah Napoli terlalu percaya diri menganggap bisa mengalahkan Venezia tanpa kreator utama, penyerang tengah pilihan pertama, dan salah satu penggiring bola terbaiknya?
Keputusan Allegri tidak bisa dilepaskan dari citranya sebagai aziendalista, sosok yang loyal pada perusahaan. Ia menyebut kata itu sebagai pujian dan menegaskan keyakinannya pada kekuatan skuad yang ada. Napoli sudah memakai 23 pemain di Serie A musim ini; Lucca yang menjadi starter melawan Venezia hampir menyamai separuh total menitnya musim lalu, sementara Lang yang sempat dipinjamkan ke Galatasaray pada Januari setelah berselisih dengan Conte sudah kembali dan mencetak gol dalam kemenangan atas Frosinone.
Namun ada juga tanda-tanda gesekan. Lang, yang tidak dipakai melawan Venezia, terlihat ditegur rekan setimnya Frank Anguissa di pinggir lapangan, dilaporkan karena memotong pemanasan setelah Allegri memilih memasukkan Alisson lebih dulu. De Bruyne juga sempat terlihat menolak instruksi Allegri untuk turun ke lini tengah dan memberi ruang bagi Scott McTominay, dengan keduanya beradu gestur; Allegri menyebut insiden itu akibat hambatan bahasa. Belum ada indikasi De Bruyne menerima gagasan Allegri bahwa ia bisa memperpanjang karier sebagai kreator dari lapisan dalam. De Laurentiis kemungkinan sadar sulit menemukan pelatih berpengalaman lain yang mau mengikuti arahan; Allegri juga belum mengeluh soal Gabriel Jesus, satu-satunya pemain yang ia minta pada musim panas, yang kini rata-rata mencetak lebih dari satu gol setiap 60 menit di Barcelona.
Konteks Serie A: Spalletti dan Sarri juga di Bawah Sorotan
Kekalahan dari Venezia membuat Napoli tertahan di posisi kesembilan dengan 10 poin dari tujuh laga, sementara Venezia mengumpulkan tiga poin pertama dan masih di dasar klasemen. Jarak dengan pemuncak klasemen, Inter Milan, sudah sembilan poin. Meski musim masih panjang, catatan itu memperbesar sorotan terhadap Allegri.
Tekanan juga menghampiri Luciano Spalletti di Juventus. Juventus berada satu poin lebih buruk dibandingkan setelah tujuh laga musim lalu di bawah Igor Tudor, yang dipecat setelah kalah pada laga kedelapan, kebetulan juga melawan Lazio. Kekalahan 0-3 Juventus dari Lazio pada Minggu malam mengalihkan sebagian perhatian media ke Turin.
Allegri dan Spalletti adalah dua dari empat manajer Serie A saat ini yang pernah memenangi kompetisi. Wajar jika muncul pertanyaan apakah keduanya masih tahu cara mendatangkan hasil, dan sorotan serupa bisa mengarah ke Maurizio Sarri yang kalah empat kali dari tujuh laga pertamanya bersama Atalanta. Di sepak bola Italia, reputasi masa lalu tidak otomatis membeli waktu. Seorang pendukung Venezia membawa spanduk yang berjanji tetap mencintai klub bahkan jika mereka menang, lelucon kelam dari basis penggemar yang sudah lama akrab dengan kekalahan.
Bagi Venezia, kemenangan ini adalah titik awal yang ideal di bawah Nicola. Mereka akhirnya meninggalkan posisi tanpa poin dan membuktikan bahwa blok rendah yang disiplin masih bisa mengalahkan tim dengan kualitas individu lebih baik. Bagi Allegri, hasil ini menambah beban di tengah musim yang belum stabil.
Posisi Allegri di Napoli belum tentu berada di ujung tanduk. De Laurentiis tampaknya masih menghargai pelatih yang mau mengikuti garis klub, dan Allegri belum melontarkan keluhan terbuka soal kebijakan transfer. Namun dalam sepak bola, dukungan seperti itu jarang tanpa syarat, terutama ketika hasil mulai berjalan menjauh.
