Presiden FIFA, Gianni Infantino, dikabarkan akan terbang ke Republik Dominika akhir pekan ini untuk menghadiri turnamen junior yang digelar oleh Caribbean Football Union (CFU). Langkah ini diambil di tengah krisis FIFA yang semakin menekan posisinya, terutama setelah sejumlah konfederasi mulai bergerak mendorong mosi tidak percaya. Menurut laporan The Guardian, kehadiran ini adalah bagian dari strategi Infantino untuk memecah koalisi Eropa dan Amerika Utara yang ingin menjatuhkannya.
Turnamen yang dimaksud adalah U14 Boys Challenge, sebuah ajang usia muda yang bukan bagian dari kalender resmi FIFA. Meski begitu, 21 asosiasi anggota CFU memiliki hak suara sebagai anggota FIFA, sehingga acara ini dianggap sebagai medan lobi yang cukup strategis. Yang menarik, sejumlah petinggi Concacaf, konfederasi yang membawahi kawasan Amerika Utara, Tengah, dan Karibia, justru meminta Infantino membatalkan rencana datang.
Siasat Infantino di Tengah Krisis FIFA
Keputusan Infantino menghadiri turnamen ini bukan tanpa risiko. Di lokasi yang sama, ia kemungkinan akan berhadapan langsung dengan Victor Montagliani, Presiden Concacaf yang selama ini dianggap sebagai penantang paling kredibel. Konfederasi itu sendiri sedang bekerja sama dengan UEFA untuk menekan Infantino, sehingga pertemuan tatap muka di Republik Dominika bisa menjadi ajang ketegangan yang sulit dihindari.
CFU sendiri memiliki 21 asosiasi yang menjadi anggota FIFA dengan hak suara penuh. Itu sebabnya, meskipun turnamen ini bukan agenda resmi FIFA, kehadiran presiden FIFA tetap menuai sorotan. FIFA sendiri memilih bungkam dan menolak berkomentar ketika ditanya soal rencana perjalanan ketua umumnya.
Republik Dominika: Dari Undangan ke Sikap Kritis
Sebelum rencana kontroversial penjualan Piala Dunia muncul pada bulan lalu, Federasi Sepak Bola Republik Dominika termasuk pihak yang mengundang Infantino untuk hadir dalam turnamen ini. Namun sikap itu berubah setelah proposal FIFA Forward Enterprise menjadi sorotan. Republik Dominika kini ikut mendukung pernyataan bersama UEFA, Concacaf, dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) yang meminta Infantino menggelar tinjauan independen terhadap proposal tersebut.
Mereka juga mendukung permintaan diadakannya rapat darurat Dewan FIFA untuk membahas persoalan ini. Dengan kata lain, tuan rumah turnamen tidak lagi berada di pihak Infantino secara penuh. Hal ini membuat kehadirannya di Republik Dominika tidak hanya berbau diplomatis, tetapi juga sarat dengan tekanan politik.
Basis Kekuatan dan Celah di Blok Concacaf
Dalam sebulan terakhir, Infantino banyak menghabiskan waktu di Maroko dan Qatar untuk memperkuat dukungan dari sekutu-setianya. Kini ia mencoba memperluas basis dukungan ke negara-negara kecil di kawasan Karibia. Ia melihat pertemuan CFU sebagai kesempatan untuk membelah blok Concacaf dan melobi suara dari negara-negara yang selama ini mungkin tidak terlalu dekat dengannya.
Beberapa negara justru menunjukkan peta dukungan yang tidak seragam. Meksiko, yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling sukses di Concacaf, justru memilih melawan arah konfederasi dan mendukung Infantino. Dukungan juga datang dari dua anggota CFU, yaitu Grenada serta Saint Kitts dan Nevis.
Tekanan Politik Menjelang Pemilihan Presiden FIFA
UEFA, Concacaf, dan AFC terus menjajaki kemungkinan mengajukan mosi tidak percaya terhadap Infantino. Jika sampai terwujud, persoalan ini bisa memuncak jauh sebelum pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan pada Maret. Namun mekanisme untuk memanggil kongres luar biasa tidak bisa dilakukan sembarangan.
Berdasarkan statuta FIFA, Dewan FIFA dapat menggelar kongres luar biasa apabila setidaknya 43 dari 211 asosiasi anggota mengajukan permintaan tertulis. Permintaan itu harus mencantumkan agenda secara spesifik, dan mosi tidak percaya bisa menjadi salah satu agenda yang dimasukkan. Kongres luar biasa wajib digelar dalam waktu tiga bulan, meskipun statuta FIFA tidak mengatur secara khusus mekanisme mosi tidak percaya terhadap presiden.
Ringkasnya, jalan untuk menggulingkan presiden FIFA secara institusional memang tersedia, tetapi tidak sederhana. Dibutuhkan koordinasi politik yang kuat di antara banyak asosiasi. Berikut poin-poin penting terkait mekanisme tersebut:
- Permintaan tertulis harus diajukan oleh 43 dari 211 asosiasi anggota FIFA.
- Agenda yang diminta harus disebutkan secara eksplisit, termasuk mosi tidak percaya.
- Kongres luar biasa harus digelar dalam tiga bulan, namun aturan mosi tidak percaya terhadap presiden tidak diatur khusus.
Petisi Penggemar dan Seruan Mundur
Tekanan terhadap Infantino kembali meningkat setelah kelompok penggemar sepak bola di seluruh dunia meluncurkan petisi pada Kamis lalu. Petisi itu menyerukan agar Infantino mundur dari jabatannya dan sudah mendapat dukungan dari enam konfederasi FIFA, baik dari kelompok penggemar level kontinental maupun nasional. Ini menjadi sinyal bahwa perlawanan terhadap presiden FIFA tidak hanya datang dari dalam struktur organisasi, tetapi juga dari akar rumput.
Dalam pernyataannya, kelompok penggemar mengecam rencana Infantino yang dinilai sebagai upaya menjual Piala Dunia kepada investor swasta. Mereka menyebut rencana itu disusun secara rahasia dan disembunyikan dari anggota FIFA serta publik. “Presiden yang berulang kali mengkhianati sepak bola dan mempermainkan olahraga kita telah kehilangan hak untuk memimpinnya,” demikian bunyi pernyataan itu. “Demi kredibilitas FIFA dan masa depan permainan ini, dia harus mundur.”
Kehadiran Infantino di Republik Dominika akhir pekan ini menjadi ujian nyata seberapa kuat posisinya di tengah krisis FIFA yang terus membesar. Ia mencoba merawat dukungan dari negara-negara kecil sambil menghadapi tekanan gabungan dari Eropa, Amerika Utara, dan Asia. Namun dengan petisi penggemar yang terus menguat dan kemungkinan mosi tidak percaya yang masih berjalan, jalan mempertahankan kursi presiden FIFA tidak akan pernah semudah yang dibayangkan.
