Piala Dunia selalu identik dengan kemeriahan, sorak sorai penggemar, dan citta kota tuan rumah yang gemilang. Namun, di balik panggung megah tersebut, ada sisi kelam yang jarang disorot: pembersihan tunawisma Piala Dunia secara paksa dari pusat kota. Atlanta, salah satu kota tuan rumah Piala Dunia 2026, menjadi contoh nyata bagaimana tekanan ekonomi dan politik bisa mengorbankan kelompok paling rentan.
Kota yang ‘Dibersihkan’ demi Turis
Ketika dunia datang untuk berpesta sepak bola, pemerintah kota Atlanta justru sibuk menyingkirkan pemukiman tunawisma. Di Freedom Park, kurang dari satu mil dari area nonton bareng Piala Dunia, petugas kota masuk tanpa peringatan dan menyita tenda, KTP, obat-obatan, serta barang-barang pribadi para penghuni. Seorang pejabat kota menyebutnya sebagai “perawatan taman rutin” dan mengklaim area tersebut bukan kamp resmi.
Tindakan ini bukanlah insiden terisolasi. Menjelang final Piala Dunia antara Inggris dan Argentina, taman itu nyaris kosong—seperti tidak pernah ada tenda dan kursi di sana. Padahal, sehari sebelumnya, puluhan tunawisma masih bertahan hidup di tempat yang sama. Inilah wajah pembersihan tunawisma Piala Dunia yang terjadi di Atlanta.
Kebijakan Kota hingga Level Nasional
Walikota Atlanta, Andre Dickens, tidak ragu menyampaikan tujuannya: “Kami ingin memastikan para tunawisma tidak mendekati pusat kota, bukan hanya selama Piala Dunia, tapi mulai sekarang.” Pernyataan ini selaras dengan kebijakan pemerintahan Trump yang lebih luas. Wakil Presiden JD Vance bahkan pernah berkomentar kontroversial bahwa warga Atlanta tidak seharusnya “menyeberang jalan untuk menghindari orang gila yang berteriak.”
Atlanta meluncurkan program bernama Downtown Rising yang didanai untuk membersihkan kamp-kamp tunawisma sebelum turnamen. Klaim resmi menyebut 500 orang sudah ditempatkan di rumah singgah. Namun, realitas di lapangan menunjukkan sisi lain yang lebih kejam.
Tragedi yang Terlupakan: Cornelius Taylor
Salah satu contoh paling tragis dari pembersihan tunawisma Piala Dunia adalah kematian Cornelius Taylor. Pria itu tidur di tendanya di Old Wheat Street saat petugas datang dengan buldoser seberat lima ton untuk membersihkan jalan. Taylor tewas tergencet di tempat tidurnya. Tunangannya kemudian menemukan potongan tubuh dan darah di sisa-sisa barang milik Taylor. Tragedi ini mendorong janji protokol baru, namun sejauh mana itu diterapkan masih dipertanyakan.
‘Mereka Membawa Kami ke Gudang Polisi’
Sirius, seorang tunawisma yang biasa berkunjung ke Crossroads Community Center dekat hotel FIFA, menceritakan pengalamannya dibawa ke pusat penampungan di luar West End Atlanta. “Mereka menurunkan kami di tengah malam. Katanya pusat Mormon, tapi itu cuma gudang polisi. Mirip kamp FEMA. Begitu lihat, saya langsung pergi dan jalan kaki kembali ke sini. Ini semua karena Piala Dunia. Mereka ingin kota terlihat bagus untuk turis.”
Sirius menambahkan bahwa sebelumnya mereka hanya digusur ke pinggir jalan, kini dibuang jauh ke batas kota. Pernyataan ini diperkuat oleh Drayvon Clark, tunawisma lain, yang merasa masyarakat mereka “didorong keluar seperti sampah.”
Skala Masalah dan Kemunafikan FIFA
Secara nasional, jumlah tunawisma di AS mencapai setidaknya 770.000 jiwa. Dalam dua tahun terakhir, ratusan undang-undang baru disahkan untuk mengkriminalisasi tidur di luar ruangan. Piala Dunia mempercepat proses ini di kota tuan rumah. Los Angeles memblokir motel untuk tunawisma, Dallas membersihkan kamp 200 tenda di dekat balai kota, sementara Seattle hanya berhasil membangun 50 dari 500 rumah yang dijanjikan.
Praktik pembersihan tunawisma Piala Dunia ini bukan hal baru. Olimpiade Atlanta 1996 menampung 9.000 orang di pusat penahanan de facto. Paris juga mengangkut tunawisma keluar kota saat Olimpiade 2024. Ironisnya, FIFA terus berkampanye bahwa sepak bola menyatukan dunia. Dalam praktiknya, turnamen ini kerap menjadi alat “sportswashing”—membersihkan citta dengan kemewahan sambil mengabaikan penderitaan di sekitarnya.
Suara dari Tepi Kota
Sirius menutup dengan nada pahit: “Negara ini dibiakkan untuk perang. Semua orang di sini didoktrin untuk menjadi agresif dan mati rasa. Amerika itu keras. Hak asli berubah menjadi hak istimewa yang dibayar.” Ia juga menyoroti bahwa sepak bola bukanlah olahraga tradisional komunitas kulit hitam di Atlanta, sehingga turnamen ini terasa eksklusif dan asing. “Kami satu-satunya yang dikecualikan,” katanya.
Pada malam final, bahkan di Manhattan, tenda tunawisma masih berdiri di pintu masuk acara Fanatics yang digembar-gemborkan. Pemandangan itu mengingatkan bahwa di balik pesta Piala Dunia, Amerika tetap negeri dengan kesenjangan tajam—tempat jaring pengaman sosial seringkali hanya ilusi.
Kesimpulan: Harga dari Kemegahan
Pembersihan tunawisma Piala Dunia di Atlanta bukan sekadar cerita lokal, melainkan cermin sistemik bagaimana perhelatan olahraga global bisa menjadi bumerang bagi kelompok marjinal. Saat stadion bersinar dan turis berfoto, ribuan manusia kehilangan tempat tinggal, identitas, bahkan nyawa. Tanpa transparansi dan kebijakan yang benar-benar inklusif, “menyatukan dunia” melalui sepak bola hanya akan menjadi slogan kosong yang menutupi kekejaman di bawah karpet.
