Unai Emery Optimistis Aston Villa Tetap Bersaing Musim Ini

Unai Emery tampil percaya diri dan rileks saat menemui awak media di Red Bull Arena, jelang laga Piala Super melawan Paris Saint-Germain pada Rabu. Manajer Aston Villa itu yakin timnya tetap bisa bersaing meski ditinggal sejumlah pemain kunci di bursa transfer musim panas ini. Ia bahkan melontarkan lelucon tentang perkembangan bahasa Inggrisnya sekaligus mengolok-olok kapten tim, John McGinn, yang duduk di sebelahnya.

Suasana santai itu menunjukkan ketenangan Emery menghadapi musim penuh keempatnya menangani Villa. Ia sadar banyak pertanyaan akan mengarah pada kepergian pemain dan staf pelatih, tetapi ia menegaskan bahwa perubahan bukan hal baru bagi klub ini. “Kalian bertanya soal perubahan pelatih dan pemain, tapi McGinn cerdas dan jawabannya luar biasa,” ujar Emery sambil tersenyum. Ia juga mengingatkan bahwa sejak McGinn bergabung pada 2018, Villa terus bergerak maju meski selalu ada pergantian.

Unai Emery yakin perubahan tak menghentikan laju Aston Villa

Emery menjelaskan bahwa sejak McGinn datang pada 2018, Villa masih bercokol di Championship. Sejak saat itu, pergantian pemain dan pelatih terus terjadi setiap musim, tetapi klub tetap melangkah maju. “Jika kami membandingkan diri dengan klub lain seperti Manchester City, Chelsea, Manchester United, Arsenal, dan Liverpool, kami bersaing dengan mereka. Kami belum punya kekuatan mereka … belum,” kata Emery.

Pernyataan itu tentu menjadi kabar melegakan bagi suporter Villa yang khawatir dengan besarnya tantangan musim ini. Villa telah menjual Morgan Rogers, Youri Tielemans, dan Lucas Digne, dengan Digne kembali ke PSG dan berpeluang tampil menghadapi mantan klubnya. Selain itu, tiga staf pelatih kunci juga hengkang, termasuk pelatih bola mati Austin MacPhee.

Ancaman lain datang dari Arsenal yang dikabarkan serius ingin memboyong Ezri Konsa. Bek tersebut, bersama Ollie Watkins dan Emiliano Martínez, masih menikmati liburan setelah menjalani tugas Piala Dunia Antarklub. Namun McGinn menegaskan bahwa Emery, yang disebutnya sebagai jantung dari operasional tim, tetap berada di Villa.

John McGinn: Inti tim masih utuh

McGinn memberikan jawaban tegas ketika ditanya soal ekspektasi Villa untuk musim mendatang. “Sama seperti beberapa musim terakhir. Kami selalu bersaing dengan tim terbaik di Inggris dan Eropa, apa pun kompetisinya,” ujar kapten Villa itu. Ia mengakui banyak perubahan terjadi, tetapi klub lain di Inggris juga mengalami hal serupa, termasuk pergantian pelatih dan pemain.

“Yang masih kami miliki adalah inti utama tim, manajer yang sama, metode yang sama, dan keinginan yang sama untuk meraih lebih banyak,” lanjut McGinn. Banyak orang mengira Villa sudah mencapai batas kemampuan dua musim lalu, tetapi mereka berhasil membuktikan anggapan itu keliru. Kini tugas Villa adalah mengintegrasikan pemain baru dan membuat mereka percaya pada visi yang sama seperti para pemain musim sebelumnya.

McGinn mengaku sangat antusias menyambut apa yang ia sebut sebagai “Aston Villa yang baru”. “Pekerjaan kami hanyalah mengintegrasikan pemain baru dan membuat mereka percaya, seperti pemain-pemain beberapa musim terakhir percaya. Kami masih punya rasa lapar dan keinginan yang sama untuk meraih lebih banyak,” katanya.

Kepergian pemain kunci dan strategi transfer Villa

Villa sebenarnya tidak ingin kehilangan Morgan Rogers. Chelsea harus membayar 117 juta pound untuk memboyong gelandang timnas Inggris itu, dua setengah tahun setelah Emery meminta Villa mengeluarkan 8 juta pound untuk merekrutnya dari Middlesbrough. Adapun Tielemans yang awalnya bergabung dengan status bebas transfer akhirnya dijual seharga 35 juta pound saat usianya menginjak 29 tahun.

Berikut ringkasan kepergian pemain utama Villa pada bursa transfer musim panas ini:

  • Morgan Rogers ke Chelsea seharga 117 juta pound.
  • Youri Tielemans dijual seharga 35 juta pound.
  • Lucas Digne kembali ke PSG.

Adapun Digne merupakan pemain yang sama andalnya, berhasil merebut kembali posisi bek kiri dari Ian Maatsen yang dibeli seharga 38 juta pound. Penjualan ini menunjukkan pola bisnis Villa yang semakin matang: membeli dengan harga murah, mengembangkan pemain, lalu menjual dengan nilai tinggi. Hasilnya, klub mampu meningkatkan anggaran tanpa kehilangan daya saing di lapangan.

Emery sendiri paham betul bagaimana bisnis klub sepak bola modern berjalan. Ia menghabiskan dua tahun menangani PSG dan mengetahui bahwa klub Prancis itu kini bukan sekadar tim sepak bola, melainkan sebuah merek global. PSG bahkan membuka megastore di Oxford Street, London, dan CEO mereka Victoriano Melero berbicara soal bersaing dengan Real Madrid di lapangan serta merek seperti LA Lakers dan Ferrari di luar lapangan.

Modal berharga dari perjalanan Eropa Villa

Hal yang menarik dari pernyataan Emery adalah bagaimana ia menekankan pentingnya modal yang diperoleh Villa dari perjalanan mereka di kompetisi Eropa. Salah satu malam paling berkesan adalah perempat final melawan PSG 16 bulan lalu, saat Villa menang 3-2 di leg kedua di Villa Park. Kiper Gianluigi Donnarumma harus melakukan tiga penyelamatan gemilang untuk mencegah Villa memaksakan babak tambahan.

Emery bahkan sempat terjatuh berlutut setelah bek Willian Pacho memblok tembakan Maatsen yang mengarah ke gawang pada detik-detik akhir pertandingan. Momen itu menggambarkan betapa dekatnya Villa dengan pencapaian besar, dan pengalaman seperti inilah yang kini menjadi modal berharga. “Premier League adalah liga terbaik di dunia dan Aston Villa sekarang memiliki merek yang lebih baik,” ujar Emery.

Emery juga mengungkapkan kebahagiaannya atas komitmen klub yang sejalan dengan visinya. Villa berencana memperluas Villa Park hingga berkapasitas 50.000 penonton pada musim depan. “Klub berusaha keras untuk berada di arah yang sama dengan saya. Kami meningkatkan anggaran melalui hasil bagus di lapangan, kadang dengan menjual pemain, dan tetap konsisten,” jelasnya.

Kans Villa di Piala Super dan misi membuktikan diri

Laga melawan PSG di Salzburg menjadi ujian pertama bagi “Aston Villa yang baru”. Sekitar 6.000 suporter Villa diperkirakan hadir memberi dukungan langsung di Red Bull Arena. Fasad stadion bahkan dihiasi gambar McGinn dan rekan-rekannya yang merayakan kemenangan Liga Europa di Istanbul pada Mei lalu.

Kemenangan di Liga Europa itu menjadi bukti bahwa Villa mampu bersaing di level tertinggi Eropa. Kini mereka menghadapi lawan yang lebih berat dengan skuad yang banyak berubah, tetapi Emery tidak gentar. “Saya merasa nyaman, bahagia, dan sangat menuntut, bahkan lebih dari tahun-tahun sebelumnya,” katanya.

“Kami ingin lebih. Kami tidak berhenti di sini,” tegas Emery. Pernyataan itu menjadi sinyal jelas bahwa ambisi Villa tidak surut meski banyak pemain hengkang. Dengan manajer yang tenang, inti tim yang solid, dan dukungan penuh klub, Villa tampaknya siap membuktikan bahwa mereka belum selesai bersaing di papan atas.

Mampukah Aston Villa membuktikan diri di hadapan PSG dan sepanjang musim ini? Semua akan terjawab di lapangan, tetapi satu hal yang pasti: Unai Emery dan anak asuhnya tidak akan berhenti bermimpi. Musim baru ini akan menjadi ujian sejati bagi ketahanan dan ambisi klub asal Birmingham tersebut.