Pesepak bola Raheem Sterling mengaku bersalah dalam kasus mengemudi berbahaya dan kini terancam hukuman penjara. Mantan pemain Chelsea dan Manchester City itu mengendarai mobil Lamborghini miliknya selama lebih dari satu jam di jalan tol pada jam sibuk sambil menghirup nitrous oxide, zat yang lebih dikenal sebagai gas tertawa. Ia menerima tiga dakwaan yang dibacakan di hadapan Pengadilan Magistrat Basingstoke, Inggris.
Perkara ini menjadi pukulan baru bagi Sterling, 31 tahun, tepat ketika ia berupaya membangkitkan kembali kariernya. Ia baru saja kembali ke Inggris setelah menjalani masa peminjaman di klub Belanda, Feyenoord. Selain menghadapi ancaman kurungan, ia kini juga berisiko kehilangan hak mengemudi dan mendapat sorotan publik atas perilakunya di jalan raya.
Raheem Sterling Mengaku Bersalah atas Tiga Dakwaan
Sterling berdiri di ruang sidang untuk menerima tiga dakwaan yang diarahkan kepadanya. Ia mengakui tuduhan mengemudi berbahaya setelah berkendara secara ugal-ugalan dalam periode yang panjang di ruas jalan tol M25 dan M3. Selain itu, ia juga mengaku bersalah atas kepemilikan nitrous oxide serta penolakan memberikan sampel untuk pemeriksaan.
Jaksa penuntut, Simon Jones, membeberkan bagaimana Sterling melakukan rangkaian tindakan berbahaya tersebut sebelum akhirnya menabrak mobil mewahnya yang bernilai sekitar £270.000. Lamborghini itu mengalami kerusakan pada bagian bodi dan seluruh keempat bannya meletus dalam insiden tersebut. Kerusakan itulah yang kemudian menjadi salah satu bahan perdebatan di persidangan.
Hakim distrik Kirsty Allman memutuskan mencabut hak mengemudi Sterling mulai hari itu juga. Ia juga dibebaskan dengan jaminan tanpa syarat hingga 25 November mendatang. Pada tanggal tersebut, hukumannya akan ditentukan atau dialihkan ke pengadilan mahkota (crown court) yang memiliki kewenangan menjatuhkan hukuman lebih berat.
Kronologi Kasus Mengemudi Berbahaya Raheem Sterling
Peristiwa yang menjerat Sterling terjadi pada 28 Mei. Antara pukul 07.45 dan 08.52 pagi, polisi menerima sejumlah laporan dari warga yang menyaksikan aksi berkendara berbahaya di jalan tol. Kejadian itu berlangsung tak lama setelah Sterling kembali ke Inggris usai masa peminjaman bersama Feyenoord.
Rekaman dasbor yang diserahkan salah satu saksi kepada polisi memperlihatkan mobil Sterling berpindah-pindah jalur secara tiba-tiba dan nyaris menabrak pembatas tengah jalan. Para saksi melaporkan melihat pengemudi menghirup balon saat berkendara. Salah seorang saksi mengaku sangat khawatir pengemudi tersebut bisa menewaskan orang lain, dan menyebut gaya mengemudinya benar-benar mengerikan. Saksi itu bahkan sempat mengira airbag telah mengembang, padahal yang ia lihat adalah balon putih besar yang telah kempis, sehingga ia tidak tahu apakah pengemudi masih bisa melihat ke arah depan.
Setelah keluar dari jalan tol M3, mobil Lamborghini itu keluar dari jalur di A327, dekat persimpangan Minley di Hampshire. Seluruh empat ban mobil meletus dan bodinya rusak. Rekaman kamera tubuh petugas yang ditayangkan di persidangan menunjukkan Sterling duduk di kursi penumpang dengan dua tabung gas di pangkuannya sebelum ia mengakui bahwa dirinyalah yang mengemudikan mobil. Jaksa Jones menyebut Sterling tampak berupaya memindahkan balon kempis dari sampingnya ke kursi belakang.
Saksi lain memberi tahu polisi bahwa mereka melihat Lamborghini itu dikemudikan secara tidak menentu sekitar pukul 01.10 dini hari. Menurut Jones, mobil tersebut masuk ke jalur layanan drive-through dengan kecepatan yang mengkhawatirkan, dan pengemudinya terlihat memegang balon yang masih mengembang.
Gagal Tes Kesadaran dan Menolak Sampel Darah
Setelah ditangkap, Sterling dibawa ke pusat investigasi Basingstoke. Dalam proses tersebut, ia mengaku kepada petugas bahwa dirinya memiliki masalah dengan nitrous oxide. Air liurnya diuji dan tidak ditemukan jejak ganja maupun kokain, tetapi ia kemudian menolak memberikan sampel darah yang dibutuhkan untuk memeriksa zat lain.
Sterling gagal dalam serangkaian tes gangguan kesadaran. Ia diminta berjalan lurus tanpa terhuyung dan menyentuhkan ujung jari ke ujung hidungnya, namun tidak berhasil. Ia juga diminta memperkirakan durasi 30 detik dengan mata tertutup, tetapi justru mencatat waktu 52 detik.
Menurut jaksa, selama tes berlangsung Sterling tampak pendiam, menarik diri, lesu, dan terus gelisah. Kelopak matanya turun, konsisten dengan kelelahan atau pengaruh zat. Ia juga mengaku merasa sangat kedinginan, meskipun saat itu sedang puncak gelombang panas dengan suhu mencapai 33 derajat Celsius.
Sebagai mantan pemain timnas Inggris, Sterling mengoleksi 82 penampilan antara 2012 dan 2022 serta tampil di lima turnamen besar. Ia dibawa ke ruang medis, namun menolak memberikan sampel darah tanpa alasan yang wajar, meski sudah diberi peringatan berulang dan jelas. Pukul 17.13, ia diperiksa dengan didampingi perwakilan hukum. Sebuah pernyataan tertulis yang telah ditandatangani dibacakan, di mana ia mengaku tidak tidur sepanjang malam dan merasa lelah serta bingung. Setelah itu, ia menjawab “tanpa komentar” atas pertanyaan para petugas.
Ancaman Hukuman dan Argumen Pihak Pembela
Hukuman maksimal yang mengancam Sterling adalah dua tahun penjara. Meski demikian, vonis 12 hingga 18 bulan dinilai lebih mungkin dijatuhkan, dan dengan adanya faktor peringan, hukuman itu bisa saja ditangguhkan. Semua itu baru akan dipastikan pada 25 November nanti.
Pengacara pembela, Jason Bartfield KC, tidak membantah bahwa ini adalah kasus kategori teratas, mengingat lamanya berkendara dan jelasnya gangguan serius yang dialami Sterling. Namun, ia mengingatkan bahwa gangguan tersebut terjadi dalam periode singkat, berbeda dengan pengaruh ganja atau alkohol. Bartfield juga menolak anggapan bahwa kerusakan mobil tergolong serius, dan menyebutnya hanya sebagai goresan ringan di samping ban yang meletus.
Bartfield berargumen bahwa keberadaan dua tabung gas di pangkuan Sterling saat polisi tiba justru menunjukkan kliennya sama sekali tidak berupaya menyembunyikan apa pun dari petugas. Meski rincian lengkap faktor peringan tidak disampaikan di persidangan, ia menegaskan bahwa ada banyak hal yang meringankan, dan langkah-langkah sukarela telah diambil untuk mengatasinya. Ia berharap hal itu mendapat pertimbangan dari pengadilan.
Hakim distrik Kirsty Allman memerintahkan penyusunan laporan pra-hukuman dan menunda persidangan. Ia mengaku belum memutuskan apakah akan mempertahankan yurisdiksinya atau menyerahkan penentuan hukuman kepada crown court, sebab pengadilan magistrat tidak dapat menjatuhkan hukuman lebih dari 12 bulan. Ia membebaskan Sterling dengan jaminan tanpa syarat dan memperingatkan bahwa surat perintah penangkapan akan diterbitkan bila ia tidak hadir. Hakim juga menegaskan bahwa Sterling dilarang mengemudi mulai hari itu, dan mengemudi saat hak mengemudinya dicabut merupakan tindak pidana yang bisa berujung penjara.
Dampak dan Konteks Lebih Luas
Kasus mengemudi berbahaya ini menambah daftar panjang persoalan yang membayangi karier Sterling, yang pernah menjadi andalan lini serang tim nasional Inggris. Setelah masa peminjaman di Feyenoord, ia sebenarnya tengah berupaya membangun kembali performa dan reputasinya di lapangan. Pengakuan bersalah ini berpotensi memengaruhi citranya di mata klub, sponsor, dan publik, terlebih karena melibatkan perilaku yang membahayakan keselamatan orang lain.
Dari sisi hukum, perkara ini menyoroti bagaimana pengadilan Inggris menangani kasus mengemudi di bawah pengaruh zat. Penggunaan nitrous oxide, yang lazim disebut gas tertawa, memang kerap dikaitkan dengan perilaku berisiko. Kombinasi antara berkendara dalam kondisi terganggu dan penggunaan zat membuat kasus ini dipandang serius, sehingga tidak menutup kemungkinan berlanjut ke pengadilan yang lebih tinggi dengan kewenangan hukuman yang lebih besar.
Bagi dunia sepak bola, kejadian seperti ini menjadi pengingat bahwa status sebagai figur publik tidak menghapus konsekuensi hukum. Klub dan komunitas suporter umumnya menantikan keputusan akhir sebelum menentukan sikap. Apa pun hasilnya, putusan pada 25 November nanti akan menjadi penentu arah karier Sterling selanjutnya.
Menanti Putusan Akhir
Secara keseluruhan, Raheem Sterling telah mengakui tiga dakwaan, yakni mengemudi berbahaya, memiliki nitrous oxide, dan menolak memberikan sampel darah. Ia kini berstatus dilarang mengemudi dan dibebaskan dengan jaminan tanpa syarat sampai persidangan penentuan hukuman digelar. Ancaman dua tahun penjara masih membayangi, meski vonis yang lebih ringan atau ditangguhkan tetap mungkin terjadi.
Yang tersisa sekarang adalah menunggu keputusan pengadilan pada 25 November, termasuk apakah perkara ini akan diserahkan ke crown court. Bagi Sterling, momen itu tidak hanya menentukan sanksi hukum yang harus ia jalani, tetapi juga menjadi titik penting dalam upayanya memulihkan karier dan kepercayaan publik setelah insiden tersebut.
