Presiden Concacaf, Victor Montagliani, memastikan niatnya untuk mencalonkan diri kembali pada pemilihan ketua konfederasi tahun depan. Keputusan itu otomatis menutup peluangnya maju sebagai penantang Gianni Infantino dalam perebutan kursi presiden FIFA. Sebelumnya, namanya santer disebut sebagai salah satu figur yang paling mungkin menantang orang nomor satu di federasi sepak bola dunia tersebut.
Niat itu disampaikan Montagliani kepada staf Concacaf dan, menurut informasi yang beredar, juga telah ia teruskan kepada sebagian besar dari 41 asosiasi anggota Concacaf — konfederasi yang menaungi sepak bola Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia. Kabar ini penting karena pria asal Kanada itu selama ini dianggap sebagai kandidat kuat dari luar Eropa, terutama di kalangan asosiasi anggota UEFA. Kalangan Eropa sendiri menyadari bahwa kandidat dari benua mereka hampir tidak punya peluang mengalahkan Infantino dalam pemungutan suara yang melibatkan 211 anggota FIFA.
Pesan Victor Montagliani di Depan Staf Concacaf
Dalam pertemuan town hall bersama staf Concacaf pada akhir bulan lalu, Victor Montagliani disebut menyampaikan sikapnya secara terbuka. Ia menegaskan bahwa meski FIFA tengah dilanda krisis tata kelola dan banyak pihak mendesaknya untuk maju, ia lebih memilih melanjutkan pengabdian kepada anggota di kawasan Concacaf. Pernyataan itu sekaligus menjawab spekulasi yang sejak lama berkembang soal masa depannya di panggung sepak bola internasional.
Ia disebut menilai bahwa kontribusi paling bermanfaat yang bisa ia berikan saat ini adalah memperkuat Concacaf dari dalam. Alasannya, kawasan Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Karibia memiliki agenda tersendiri yang menuntut perhatian, mulai dari pembinaan sampai tata kelola kompetisi. Dengan memilih bertahan, Montagliani memastikan fokusnya tetap pada kebutuhan anggota di wilayahnya, bukan pada pertarungan politik di level global.
Konfirmasi ini juga berkaitan dengan jadwal yang berdekatan. Pemilihan presiden Concacaf akan digelar pada kuartal pertama tahun depan, sementara pemungutan suara FIFA berlangsung pada 18 Maret di Rabat. Karena kedua agenda itu beririsan, Montagliani merasa perlu menjelaskan niatnya lebih awal agar tidak menimbulkan tafsir ganda di antara para anggota. Langkah tersebut membuat posisinya sebagai calon petahana di Concacaf menjadi jelas sekaligus menutup pintu pencalonan di FIFA.
Jejak Reformasi dan Bayang-Bayang Skandal Korupsi
Montagliani, yang kini berusia 61 tahun, pertama kali terpilih sebagai presiden Concacaf sepuluh tahun lalu dengan membawa mandat reformasi. Latar belakangnya bukan perkara ringan: ia masuk setelah skandal korupsi yang memuncak pada penangkapan presiden Concacaf saat itu, Jeffrey Webb, sebagai hasil investigasi FBI. Webb kemudian mengakui bahwa dirinya menerima “suap dan kickback”.
Konteks kelam itulah yang membentuk cara kerja Concacaf di bawah Montagliani. Mandat reformasi menuntut perbaikan menyeluruh pada sistem pengawasan, transparansi keuangan, dan mekanisme pengambilan keputusan di dalam konfederasi. Bagi banyak anggota, kepemimpinan yang berkelanjutan dipandang penting agar proses pemulihan citra yang sudah berjalan tidak terputus di tengah jalan.
Karena itu pula, keputusannya untuk kembali mencalonkan diri dapat dibaca sebagai upaya menjaga kesinambungan agenda tersebut. Alih-alih berpindah ke medan pertarungan yang lebih besar di FIFA, ia memilih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dimulai di tingkat konfederasi. Pilihan ini sekaligus menegaskan bahwa prioritasnya adalah stabilitas kawasan, bukan ambisi jabatan di level global.
Mengapa Kursi FIFA Sulit Direbut dari Infantino
Peluang menantang Infantino memang sejak awal tidak sederhana. Asosiasi-asosiasi anggota UEFA sadar bahwa kandidat dari Eropa akan kesulitan besar memenangkan pemungutan suara di antara 211 anggota FIFA, karena peta suara tidak hanya ditentukan oleh blok Benua Biru. Kondisi itu membuat mereka mencari figur dari kawasan lain yang punya rekam jejak kuat dan diterima banyak pihak, dan nama Montagliani masuk dalam daftar itu.
Profil Montagliani dianggap cocok karena ia memimpin konfederasi dengan basis anggota yang beragam dan pernah melewati masa paling sulit dalam sejarah organisasinya. Pengalaman itu memberinya kredibilitas ketika berbicara soal perbaikan tata kelola, isu yang menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, keputusannya mundur dari bursa pencalonan FIFA menghapus salah satu opsi yang paling sering disebut kalangan Eropa.
Dengan langkah ini, peta persaingan di FIFA dipastikan tidak berubah dari sisi kandidat penantang dari Concacaf. Perhatian kemudian bergeser ke bagaimana kekuatan-kekuatan besar di sepak bola dunia menyusun strategi, termasuk kemungkinan mendorong reformasi dari dalam ketimbang melalui pertarungan kursi presiden.
Ceferin, UEFA, dan Reformasi yang Diusung Bersama
UEFA juga akan menggelar pemilihan presiden tahun depan. Aleksander Ceferin memastikan niatnya untuk kembali maju dalam pertemuan 55 asosiasi anggota UEFA di Berlin pada Kamis. Padahal, pada Februari 2024 ia pernah menyatakan tidak akan mencalonkan diri untuk periode keempat, meski kemungkinan ia tetap melanjutkan kepemimpinannya sejak lama menjadi rahasia umum.
Perubahan statuta UEFA sebelumnya membuat masa jabatan pertamanya tidak dihitung dalam batas tiga periode standar. Alasannya, periode itu dimulai di tengah siklus empat tahun yang sedang berjalan. Dampaknya, terbuka peluang bagi Ceferin, yang memimpin sejak September 2016, untuk berkuasa lebih dari 15 tahun secara total. Bagi sebagian besar asosiasi sepak bola Eropa, hal itu dipandang positif di tengah gejolak tata kelola yang melanda dunia sepak bola.
Kepastian tersebut sekaligus memupus anggapan bahwa Ceferin tergoda menantang Infantino untuk kursi FIFA, meski ia disebut memiliki sejumlah pendukung. Dengan Montagliani dan Ceferin sama-sama bertahan di kursinya masing-masing, keduanya diperkirakan akan terus bekerja sama mendorong reformasi tata kelola FIFA setelah skandal penjualan Piala Dunia.
Agenda Dewan FIFA dan Sorotan pada Rencana FFE
Isu reformasi itu akan masuk agenda rapat Dewan FIFA pada Kamis depan di Zurich. Dewan FIFA belum pernah bersidang sejak rencana FIFA Forward Enterprise (FFE) milik Infantino terungkap pada Juli lalu. Padahal, anggota berulang kali menyerukan digelarnya rapat umum luar biasa. Pertemuan kali ini pun menjadi yang pertama sejak kongres FIFA di Vancouver pada Maret lalu.
Montagliani, Ceferin, dan presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Salman bin Ibrahim al-Khalifa, diperkirakan memanfaatkan rapat tersebut untuk menuntut tinjauan independen atas FFE. Mereka juga disebut akan mendesak reformasi tata kelola FIFA yang lebih luas, yang memberi ruang lebih besar bagi para pemangku kepentingan dan memperjelas peran dewan dalam pengambilan keputusan.
Seruan yang sebelumnya disampaikan ketiganya melalui surat kepada Infantino bulan lalu juga akan dibahas. Salah satunya adalah permintaan agar FIFA mengalokasikan sebagian dari cadangan kasnya senilai 6 miliar dolar AS (sekitar 4,5 miliar poundsterling) untuk para anggota. Permintaan itu menjadi penanda bahwa persoalan yang diangkat bukan sekadar soal struktur, melainkan juga soal pemerataan manfaat di antara federasi anggota.
Kerangka Reformasi dan Posisi Azerbaijan
Delegasi dalam pertemuan UEFA di Berlin membahas sebuah kerangka reformasi FIFA, dan poin-poin utamanya dipublikasikan pada sore hari. Sejumlah butir yang tercantum antara lain kebutuhan akan “seorang presiden yang memimpin, bukan mengelola”, “etika, disiplin, audit, dan kepatuhan yang lebih kuat”, serta “proses yang jelas untuk keputusan-keputusan besar”. Butir-butir itu menggambarkan arah perubahan yang diinginkan kalangan Eropa.
Azerbaijan menjadi pengecualian karena menolak mendukung proposal reformasi UEFA. Mantan sekretaris jenderal Asosiasi Sepak Bola Azerbaijan, Elkhan Mammadov, kini memegang peran penting di FIFA sebagai chief member associations officer. Ia disebut berperan besar dalam upaya Infantino menjaga dukungan dari negara-negara yang masih ragu selama krisis FFE berlangsung.
Pada bulan ini, Azerbaijan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia U-15 FIFA yang pertama. Salah satu peserta turnamen tersebut adalah Rusia, hal yang menambah dimensi politis pada posisi Azerbaijan di tengah dinamika tata kelola FIFA saat ini.
Kesimpulan
Keputusan Victor Montagliani untuk kembali mencalonkan diri sebagai presiden Concacaf menutup salah satu skenario paling sering dibicarakan dalam bursa kepemimpinan FIFA. Fokusnya kini tertuju pada pemilihan di Concacaf pada kuartal pertama tahun depan, yang berlangsung tak lama sebelum pemungutan suara FIFA di Rabat pada 18 Maret. Sementara itu, Aleksander Ceferin memastikan bertahan di UEFA, sehingga dua tokoh yang kerap bersuara soal tata kelola ini tetap berada di posisinya masing-masing.
Perhatian berikutnya adalah rapat Dewan FIFA di Zurich, tempat isu tinjauan independen atas FFE, reformasi tata kelola, dan alokasi cadangan kas untuk anggota akan dibahas. Bagaimana pertemuan itu berjalan akan menunjukkan seberapa besar ruang perubahan yang tersedia bagi para anggota. Yang jelas, arah pembicaraan seputar masa depan tata kelola sepak bola dunia belum akan surut dalam waktu dekat.
