Vonis bersalah Manchester City atas pelanggaran aturan finansial Premier League memantik beragam tanggapan dari para manajer di kompetisi tersebut. Sebagian menyoroti kerugian emosional yang tidak mungkin dipulihkan lagi, sebagian memilih menahan komentar sambil menunggu proses banding tuntas. Namun hampir semua pihak sepakat pada satu hal: ketidakpastian yang berkepanjangan merugikan siapa pun yang terlibat.
City dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan selama rentang sembilan tahun, yakni antara 2009 dan 2018, lewat putusan komisi independen. Klub asal Manchester itu tetap membela diri, menyatakan tidak bersalah, dan telah mengajukan banding atas keputusan tersebut. Jika upaya banding mereka gagal, hukuman berat hampir pasti menanti. Situasi inilah yang membuat sejumlah nama besar di kursi kepelatihan angkat bicara, terutama mereka yang punya keterkaitan langsung dengan City, baik sebagai mantan pemain, mantan staf, maupun rival yang merasakan dampaknya di lapangan.
Michael Carrick: Momen Emosional Tak Bisa Diganti Medali
Manajer Manchester United, Michael Carrick, menegaskan bahwa menerima medali juara secara retroaktif tidak akan menutup rasa kehilangan yang ia alami. Menurutnya, nilai terbesar sepak bola justru terletak pada momen ketika sebuah gelar diperebutkan dan diraih, bukan pada trofi atau medali yang datang belakangan. Carrick menyebut dirinya terkena dampak putusan ini secara personal dengan cara yang berbeda-beda.
Carrick pernah menjadi bagian skuad United yang kehilangan gelar Premier League pada hari terakhir musim 2011-12. Saat itu Sergio Agüero mencetak gol kemenangan di menit akhir, memastikan City mengunci posisi puncak lewat selisih gol. Carrick dan rekan-rekannya hanya bisa terdiam di pinggir lapangan di Sunderland sementara City berpesta merayakan gelar. City sendiri belakangan dinyatakan bersalah melanggar aturan keuangan dalam periode sembilan tahun, 2009 hingga 2018, yang mencakup musim tersebut.
“Emosi, perasaan soal kemenangan, sebagian besar ada di momennya,” ujar Carrick. Ia menjelaskan bahwa keindahan olahraga dan sepak bola terletak pada perjalanan menuju gelar dan bagian akhirnya, termasuk apakah hasilnya berpihak kepada Anda atau justru sebaliknya. “Begitu semuanya selesai, tidak ada cara untuk menariknya kembali ke arah mana pun,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa perasaan yang paling dirindukan semua orang adalah keluar sebagai pemenang, dan itulah yang membuat sepak bola begitu dicintai.
Keterkaitan Carrick dengan persaingan melawan City tidak berhenti di situ. Ia juga menjadi bagian dari staf United di bawah Ole Gunnar Solskjær ketika tim itu finis sebagai runner-up, tertinggal 22 poin dari City, pada 2021. Soal proses hukum yang masih berjalan, Carrick mengaku tidak tahu bagaimana kasus ini akan berakhir dan memilih menunggu perkembangan. Baginya, semakin cepat persoalan ini diselesaikan, semakin baik untuk kepentingan semua pihak.
Andoni Iraola: Ketidakpastian Merugikan Semua Pihak
Manajer Liverpool, Andoni Iraola, mendesak agar kasus Manchester City ditangani secara cepat. Ia menilai proses yang terus menggantung menciptakan ketidakpastian yang tidak menguntungkan siapa pun, termasuk klub-klub pesaing. Meski demikian, ia mengakui bahwa ia dan klub lain hanya bisa bersabar seperti pihak lain sambil menantikan hasil akhirnya.
“Seorang pun tidak tahu apa yang akan terjadi,” kata Iraola. Karena itu, ia menekankan pentingnya Liverpool tetap fokus menjadi klub dan tim terbaik yang mereka bisa, sebagai tantangan utamanya sehari-hari. Ia juga rendah hati soal pendapatnya sendiri, dengan alasan dirinya belum meluangkan waktu dan belum membaca sebanyak yang telah dilakukan komisi independen.
Iraola menambahkan bahwa tuntutan permainan yang sangat tinggi membuat para pemain cenderung tidak terlalu memikirkan persoalan di luar lapangan. Menurutnya, isi kepala pemain lebih banyak dipenuhi tugas teknis, seperti menjaga pemain lawan tertentu, menyelesaikan duel, atau mempertahankan level permainan. Mereka boleh punya pandangan sendiri, tetapi fokus utama tetap pada apa yang terjadi di atas lapangan.
Vincent Kompany Tetap Bangga dengan Prestasinya di City
Mantan kapten Manchester City, Vincent Kompany, bersikeras bahwa dirinya masih merasa sangat bangga atas kesuksesan yang diraih bersama klub tersebut. Kompany memenangi empat gelar Premier League dan sejumlah trofi domestik selama berkarier di City dari 2008 hingga 2019. Ia adalah figur sentral di era dominasi City di bawah pemilik berbasis Abu Dhabi, dan namanya diabadikan dalam sebuah patung di luar Etihad Stadium.
“Saya bermain 11 tahun untuk klub ini. Saya menyukai semua tahun yang saya jalani dan semua yang kami capai serta lakukan di lapangan, itu sesuatu yang saya sangat banggakan,” ujar Kompany. Ia kini menjadi manajer Bayern Munich dan memilih berkonsentrasi penuh pada tugasnya saat ini.
Yang menarik, Kompany bergabung dengan City dari Hamburg hanya beberapa pekan sebelum Sheikh Mansour merampungkan pengambilalihan klub, sebuah momen yang mengubah City dari tim biasa menjadi langganan juara. Ketika ditanya soal persoalan di luar lapangan yang menimpa mantan klubnya, ia menegaskan bahwa sebagai pemain ia tidak terlibat dalam hal-hal tersebut. Sebagai pelatih Bayern, ia menyatakan tidak terlalu terpaku pada topik itu karena sedang menyiapkan pertandingan pekan ini dan laga yang dihadapi keesokan harinya.
Mikel Arteta Pilih Menghormati Proses Hukum
Mikel Arteta menegaskan bahwa Premier League tetap kompetisi terbaik di dunia meski ketidakpastian seputar vonis bersalah Manchester City masih berlanjut. Manajer Arsenal itu pernah menjadi asisten Pep Guardiola di City selama lebih dari tiga tahun sebelum mengambil alih kursi pelatih di Emirates pada Desember 2019. Karena latar belakang itu, ia tak terhindarkan dibombardir pertanyaan tentang mantan klubnya pada Jumat, menjelang laga melawan Leeds pada Sabtu siang.
Ketika ditanya apakah Premier League masih yang terbaik, Arteta menjawab “100 persen”. Ia menekankan pentingnya menghormati proses yang sedang berjalan, termasuk soal tenggat waktu penyelesaiannya. Menurutnya, kasus ini belum tuntas karena telah diajukan banding, sehingga posisi dirinya maupun klub adalah tidak memberikan komentar lebih jauh.
Ditanya apakah reputasi Premier League telah rusak, Arteta kembali merujuk pada proses yang belum selesai. Ia menilai opini yang lebih jelas baru bisa dibentuk setelah persoalan ini benar-benar diselesaikan, dan sampai saat itu ia belum bersiap memberikan pernyataan apa pun. Dalam kesempatan yang sama, Arteta memastikan Christos Tzolis absen beberapa pekan karena masalah hamstring, sementara keputusan soal keterlibatan Kai Havertz dan Ezri Konsa melawan Leeds masih akan ia tentukan.
Roberto De Zerbi: Masalah Saya Ada di Dasar Klasemen
Roberto De Zerbi menegaskan dirinya tidak punya waktu untuk merenungkan vonis Manchester City karena Tottenham sedang berada di dasar klasemen. Bagi manajer Spurs itu, fokus utamanya adalah membenahi timnya sendiri, bukan menanggapi persoalan hukum yang menimpa klub lain. Ia menilai prioritas seorang pelatih selalu tertuju pada para pemainnya.
De Zerbi pernah mengalami situasi serupa sebagai pemain. Ketika itu ia membela Napoli dan menghadapi Juventus pada musim 2006-07, setelah Juventus dinyatakan bersalah dalam kasus pengaturan pertandingan dan terdegradasi ke Serie B. Juventus awalnya mendapat pengurangan 30 poin yang kemudian dikurangi menjadi sembilan, dan tetap berhasil langsung promosi kembali ke Serie A.
Ditanya soal pengalaman tersebut, De Zerbi mengaku sebagai pemain ia tidak terlalu memikirkan hal-hal di luar tugasnya. Fokusnya hanya pada bola dan pekerjaannya, dan menurutnya hal itu berlaku juga bagi seorang pelatih, apalagi dalam situasi ketika timnya terpuruk di papan bawah. Ia menambahkan bahwa skandal itu tidak mengubah sepak bola Italia secara mendasar. Menurutnya, ada pihak-pihak yang bertugas mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab, keberanian, dan kejujuran, sementara tugasnya sendiri adalah menjadi pelatih, meski ia mengaku sangat menghormati aturan.
Dampak Vonis bagi Premier League dan Klub Lain
Reaksi para manajer menunjukkan bahwa dampak vonis ini jauh melampaui dinding ruang sidang komisi independen. Rival-rival City di jalur perebutan gelar harus menerima kenyataan bahwa hasil kompetisi yang sudah berlalu tidak bisa diubah begitu saja, termasuk musim 2011-12 yang ditentukan oleh gol menit akhir Agüero. Bagi klub seperti United, kerugian yang dirasakan lebih bersifat emosional dan historis, bukan sesuatu yang bisa dikompensasi secara administratif.
Bagi Premier League sendiri, kasus ini menjadi ujian kredibilitas. Arteta menolak menilai apakah reputasi liga rusak, tetapi pertanyaan semacam itu muncul karena banyak pihak menuntut kepastian. Sementara itu, Iraola menyoroti dimensi praktis: selama hasil akhir belum jelas, klub-klub lain harus merencanakan musim tanpa mengetahui kerangka kompetisi dan sanksi yang mungkin muncul.
Ada pula dimensi personal bagi para pemain. Seperti disampaikan Iraola, beban pertandingan yang tinggi membuat pemain cenderung menutup telinga dari isu eksternal dan berkonsentrasi pada tugas di lapangan. Meski begitu, mantan pemain yang kini menjadi pelatih, seperti Carrick dan Kompany, tidak bisa sepenuhnya memisahkan diri karena sejarah karier mereka terikat erat dengan klub yang sedang diperkarakan.
Banding dan Preseden Juventus: Apa yang Mungkin Terjadi Berikutnya
Karena City telah mengajukan banding, hasil akhir kasus ini masih jauh dari pasti. Arteta menyinggung soal tenggat waktu yang belum jelas, sementara Carrick berharap persoalan ini cepat diselesaikan demi kebaikan bersama. Iraola juga menekankan bahwa semua pihak hanya bisa bersabar sampai prosesnya tuntas.
Pengalaman Juventus yang dikisahkan De Zerbi memberi gambaran bahwa penyelesaian kasus semacam ini bisa berliku. Sanksi bisa berubah di tengah jalan, dan klub yang terdegradasi pun masih berpeluang langsung kembali ke kasta tertinggi. Namun, setiap kasus memiliki konteks, aturan, dan komisi yang berbeda, sehingga tidak bisa disamakan begitu saja.
Yang jelas, selama banding belum diputus, ketidakpastian akan terus menyelimuti pembicaraan seputar City, Premier League, dan klub-klub yang pernah bersaing ketat dengan mereka. Sejumlah manajer memilih bungkam demi menghormati proses, sementara yang lain menuntut kejelasan. Kedua sikap itu sama-sama mencerminkan betapa besar perhatian yang tersedot oleh perkara ini.
Kesimpulan
Vonis bersalah Manchester City atas pelanggaran aturan finansial periode 2009-2018 telah memicu reaksi yang beragam dari kalangan pelatih. Carrick menyoroti hilangnya momen emosional yang tidak bisa dikembalikan, Iraola menuntut kepastian agar semua pihak bisa melangkah, Kompany tetap bangga pada pencapaiannya di lapangan, Arteta memilih menghormati proses, dan De Zerbi lebih memilih mengurus timnya yang berada di dasar klasemen. Semua suara itu bertemu pada satu kesimpulan: ketidakpastian terlalu lama menimbulkan kerugian bagi banyak pihak. Bagaimana kasus ini berakhir akan sangat bergantung pada hasil banding City, dan sampai saat itu tiba, bayang-bayangnya akan terus terasa di seluruh kompetisi.
