Hasil Imbang Chelsea vs JDT: Peringatan bagi Xabi Alonso

Masalah Chelsea makin menumpuk setelah tur pra-musim mereka ditutup dengan hasil imbang Chelsea yang aneh dan panas melawan juara Malaysia, Johor Darul Ta’zim (JDT). Pertandingan persahabatan di Stadion Sultan Ibrahim ini berakhir 3-3 dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi pelatih anyar The Blues, Xabi Alonso. Alih-alih pulang dengan kemenangan, The Blues justru dibuat kerepotan oleh tim asuhan Xisco Muñoz.

Hasil ini jelas tidak ideal bagi Alonso, yang ditugaskan membawa Chelsea—tim yang finis ke-10 di Premier League musim lalu—kembali ke Liga Champions. Pertanda yang ada memang tidak terlihat menjanjikan: ia punya waktu kurang dari dua pekan untuk merapikan skuad sebelum laga pembuka melawan Fulham pada 24 Agustus. Menariknya, Fulham kini ditangani oleh Álvaro Arbeloa, teman lama Alonso.

Hasil Imbang Chelsea Kontra JDT: Drama Enam Gol

JDT membuka keunggulan lebih dulu ketika mereka memanfaatkan serangan balik cepat. Arif Aiman, pemain yang dijuluki “Messi Asia” di kawasan itu, mencetak gol dari alur serangan kilat tersebut. Delap menyamakan kedudukan tepat sebelum turun minum, lalu membalikkan keadaan tak lama setelah jam pertandingan melewati menit ke-60.

Tiga menit setelah Delap membuat Chelsea unggul, JDT kembali menyamakan skor lewat tendangan bebas Óscar Arribas yang arahnya berubah setelah mengenai pemain. Empat menit sebelum waktu normal habis, Bérgson melepaskan tembakan jarak jauh yang masuk ke pojok bawah gawang untuk membuat JDT unggul lagi. Namun, Mudryk yang baru masuk pada menit ke-87 memaksa Antonio Glauder mencetak gol bunuh diri semenit kemudian, sehingga Chelsea selamat dari kekalahan yang memalukan.

Masalah Disiplin Klasik Chelsea Kambuh Lagi

Yang membuat hasil imbang Chelsea ini terasa mencemaskan adalah perilaku para pemain di lapangan. Para pemain JDT tampil dengan intensitas tinggi, layaknya laga kompetitif, dan rutin melayangkan tekel keras. Chelsea gagal menjaga emosi, dan kartu kuning pun bertebaran sepanjang laga.

Delap dan Jackson mendapat kartu kuning karena membantah keputusan wasit, padahal seharusnya tidak perlu. Estêvão bahkan nyaris diusir keluar setelah membalas tendangan saat merasa tidak mendapat penalti, tetapi wasit hanya mengganjarnya dengan kartu kuning. Geovany Quenda yang masuk dari bangku cadangan juga diganjar kartu kuning untuk tekel yang sama sekali tak perlu, dan Reggie Watson yang masih berusia 16 tahun ikut dicatat wasit pada masa injury time.

Ini mengingatkan pada catatan buruk Chelsea musim lalu. The Blues menerima 11 kartu merah musim lalu—dua kali lipat lebih banyak dari tim lain dan sekaligus rekor klub. Alonso pun telah menyimpang dari kebijakan pemilik klub yang doyan merekrut pemain muda dengan mendatangkan Welbeck (35 tahun) dan Jordan Henderson (36 tahun). Namun, mungkin butuh lebih dari sekadar dua pemain senior untuk membereskan masalah ini.

Banjir Penyerang, Alonso Punya Banyak Pilihan

Dalam laga ini, Alonso melakukan 11 pergantian dari laga sebelumnya melawan Milan yang baru berakhir 24 jam sebelum kick-off. Meski lini belakang dan tengah diisi banyak remaja, trisula depan—Estêvão Willian, Liam Delap, dan Nicolas Jackson—adalah pemain yang bakal diterima dengan senang hati oleh sebagian besar klub Premier League. Total nilai ketiganya mencapai lebih dari £100 juta.

Delap mencetak dua gol lewat titik penalti dalam laga ini. Dua gol tersebut sama banyaknya dengan total golnya selama musim pertamanya di Chelsea setelah bergabung dari Ipswich musim panas lalu. Pemain 23 tahun itu dikabarkan ingin bertahan dan memperebutkan tempatnya, setelah membuktikan kemampuan di Premier League bersama Ipswich dengan 12 gol.

Alonso punya begitu banyak opsi lain di lini depan yang membuat kompetisi internal kian sengit. Keputusan menentukan starter utama jelas bukan perkara mudah. Berikut beberapa nama yang siap berebut tempat di lini serang:

  • João Pedro, salah satu striker paling menonjol musim lalu;
  • Danny Welbeck, rekrutan anyar yang baru didatangkan;
  • Nicolas Jackson, yang memberi sinyal positif saat dipinjamkan ke Bayern Munich musim lalu.

Emmanuel Emegha dari klub afiliasi Strasbourg baru saja tiba dan kemungkinan besar akan dipinjamkan. Marc Guiu juga masih tercatat dalam daftar skuad utama. Keduanya menambah panjang daftar pemain yang harus dikelola Alonso dalam dua pekan terakhir pra-musim.

Banjir Opsi di Sayap Chelsea

Di sektor sayap, persaingan juga makin ramai setelah Mykhailo Mudryk kembali lebih cepat dari hukuman larangan bermain karena narkoba pada akhir Juli. Ia melengkapi pilihan yang sudah ada seperti Cole Palmer, Estêvão yang mulai tampil tajam lagi setelah pulih dari cedera yang menggagalkan musim pertamanya yang penuh harapan di Stamford Bridge, dan Morgan Rogers yang berstatus rekrutan dengan nilai transfer termahal. Rogers dikenal kerap bermain dari sisi kiri selama membela Aston Villa.

Skuad 41 Pemain dan Teka-teki Transfer

Skuad Chelsea saat ini mencapai 41 pemain—jumlah yang luar biasa besar, terutama karena musim ini mereka tidak bermain di kompetisi Eropa. Jendela transfer baru akan ditutup akhir bulan ini, jadi masih ada pekan-pekan sibuk yang berpotensi mengganggu konsentrasi Alonso. Situasi ini jelas akan menambah stres pelatih asal Spanyol itu.

Tur Berat dan Dua Pekan yang Menentukan

Tur pra-musim Chelsea benar-benar menguras fisik. Tiga laga terakhir mereka dijalani di tiga negara dalam lima hari: Juventus di Hong Kong, Milan di Indonesia, dan JDT di Malaysia. Dua laga terakhir bahkan digelar pada hari beruntun, dan pesawat mereka baru mendarat di Malaysia pukul 3 pagi pada hari pertandingan.

Alonso hanya punya dua pekan—plus satu laga uji coba terakhir melawan Real Sociedad pada Sabtu—untuk memadukan