Kerugian Manchester United Tembus £444 Juta dalam 7 Tahun

Kerugian Manchester United berlanjut untuk tahun ketujuh secara berturut-turut. Klub raksasa Liga Inggris itu melaporkan defisit tahunan terbaru yang membuat total kerugian mereka menembus £444 juta sejak 2019. Untuk periode 2025-26, United mencatat kerugian sebelum pajak sebesar £43 juta, angka yang jauh lebih besar dibandingkan £33 juta pada 12 bulan sebelumnya.

Rilis laporan keuangan ini muncul bersamaan dengan terungkapnya cara unik klub menambah pemasukan: menjual potongan kecil rumput dari lapangan Old Trafford kepada para penggemar. Langkah tersebut menjadi gambaran betapa seriusnya tekanan finansial yang dihadapi manajemen, meski di sisi lain klub tetap mencetak rekor pendapatan. Kombinasi antara rekor pemasukan dan kerugian yang terus berulang inilah yang membuat laporan tahunan kali ini menarik untuk dicermati.

Rincian Kerugian Manchester United dan Catatan Keuangannya

Angka utama dalam laporan terbaru adalah kerugian sebelum pajak £43 juta untuk periode 2025-26. Jumlah ini naik signifikan dari £33 juta pada periode 12 bulan sebelumnya, sehingga tren kerugian tahunan yang sudah berjalan sejak 2019 tidak juga terputus. Sejak saat itu, akumulasi kerugian klub mencapai £444 juta.

Meski demikian, sisi pendapatan justru menunjukkan performa yang kuat. United membukukan pendapatan rekor sebesar £677,6 juta, tumbuh 1,7% dibandingkan 12 bulan sebelumnya. Klub bahkan mencatat laba operasional sebesar £22,6 juta untuk periode 12 bulan yang berakhir 30 Juni 2026.

Masalahnya, kenaikan pendapatan tersebut habis tersedot oleh biaya pembiayaan. Beban keuangan bersih klub melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari £21,2 juta menjadi £69,2 juta, yang sebagian dipengaruhi oleh pergerakan nilai tukar mata uang asing. United juga melakukan refinancing terhadap sejumlah pinjaman, yang berdampak pada naiknya utang bersih dari £471,9 juta menjadi £577,6 juta.

Latar Belakang: Efisiensi Biaya dan Kompensasi Pelatih yang Dipecat

Ada beberapa faktor yang membuat kerugian tahun ini membengkak. Salah satunya adalah kompensasi yang dibayarkan kepada pelatih Ruben Amorim yang dipecat, serta keputusan klub menambah fasilitas pinjaman sebesar £93 juta untuk membantu membiayai pembangunan kembali Old Trafford. Kedua hal itu menjadi pendorong utama di balik naiknya beban keuangan klub.

Di sisi lain, United sebenarnya sudah menjalankan program pemangkasan biaya besar-besaran di bawah Sir Jim Ratcliffe. Ratusan karyawan kehilangan pekerjaan sebagai bagian dari upaya menekan pengeluaran operasional. Langkah ini menunjukkan bahwa manajemen tidak hanya mengandalkan kenaikan pendapatan, tetapi juga memangkas struktur biaya secara agresif.

Efek dari efisiensi tersebut terlihat pada beban gaji pemain. Total tagihan upah United turun menjadi £301 juta, atau berkurang 3,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka itu lebih dari £100 juta lebih rendah daripada beban gaji Manchester City, yang biasanya menjadi pembanding utama dalam hal belanja besar di Liga Inggris.

Implikasi bagi Belanja Transfer dan Michael Carrick

Dalam sesi panggilan investor, CEO klub Omar Berrada menjelaskan bahwa jendela transfer musim panas dirancang dengan mempertimbangkan keberlanjutan finansial. Pada periode itu, United menghabiskan £155 juta untuk tiga pemain. Pernyataan Berrada ini memberi sinyal bahwa anggaran belanja akan tetap ketat bagi manajer Michael Carrick.

Artinya, meski klub kembali aktif di pasar transfer, ruang geraknya tidak selebar yang mungkin dibayangkan penggemar. Setiap pembelian besar kemungkinan harus diimbangi dengan penjualan pemain atau penghematan di pos lain. Dalam konteks kerugian yang sudah berjalan tujuh tahun, disiplin anggaran menjadi keharusan agar kondisi keuangan tidak makin tertekan.

Pendekatan ini juga menjelaskan mengapa penurunan beban gaji menjadi penting. Dengan struktur biaya yang lebih ramping, klub punya keleluasaan lebih besar untuk menyeimbangkan buku tanpa harus mengorbankan daya saing di lapangan. Namun, dampaknya tetap terasa pada kedalaman skuad dan pilihan strategi yang tersedia bagi tim pelatih.

Strategi Menambah Pemasukan, Termasuk Menjual Rumput Old Trafford

Di tengah upaya menutup defisit, United mencari sumber pendapatan dari berbagai sisi, termasuk hal-hal yang tidak biasa. Musim panas ini, permukaan lapangan Old Trafford diganti untuk pertama kalinya dalam 14 tahun. Melalui surel kepada para penggemar, klub menawarkan potongan rumput berukuran 7 cm x 7 cm dengan harga £125 per keping.

Langkah tersebut, meski kecil nilainya dibandingkan total pendapatan klub, memperlihatkan pola pikir komersial yang agresif. Klub berusaha memonetisasi hampir setiap aset yang dimilikinya, termasuk potongan lapangan bersejarah yang punya nilai emosional bagi para pendukung. Bagi sebagian penggemar, ini adalah suvenir; bagi klub, ini adalah tambahan pemasukan di tengah tekanan fiskal.

Selain itu, United optimistis prospek keuangan akan membaik dalam 12 bulan ke depan. Klub kembali berlaga di Liga Champions, dan mulai berjalannya kesepakatan sponsor yang lebih besar dengan mitra perlengkapan latihan Betway serta mitra lengan jersey SumUp. Kedua kesepakatan itu masing-masing diproyeksikan menyumbang £20 juta dan £22 juta per tahun. Klub memperkirakan pendapatan mencapai £740 juta hingga £760 juta untuk musim 2026-27.

Proyek Stadion Baru dan Konteks yang Lebih Luas

Sumber internal United menyebutkan bahwa refinancing yang dilakukan menyediakan dana untuk pembelian lahan senilai £63,5 juta di sebelah Old Trafford. Lahan itu dibutuhkan untuk membangun stadion baru berkapasitas 100.000 penonton yang telah diusulkan klub. Ini menjadi investasi besar pertama dalam proyek kompleks yang berpotensi menelan biaya lebih dari £2 miliar.

Proyek stadion tersebut menjadi salah satu alasan mengapa beban utang klub naik cukup tajam. Investasi jangka panjang semacam ini memang memerlukan pendanaan besar di awal, sementara manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang. Bagi manajemen, ini adalah taruhan strategis untuk memperkuat posisi komersial klub di masa depan.

Berrada menegaskan bahwa hasil keuangan ini mencerminkan kekuatan dasar bisnis klub, terutama karena diraih pada musim tanpa sepak bola Eropa. Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan dampak langsung dari kerja keras dua tahun terakhir sekaligus membuktikan popularitas dan kekuatan komersial Manchester United yang bertahan lama. Ia menambahkan bahwa meski hasil ini mengonfirmasi klub berada di jalur yang benar, manajemen akan terus mengambil pendekatan disiplin agar keuangan tetap berkelanjutan.

Penutup

Secara keseluruhan, laporan keuangan Manchester United menggambarkan kombinasi yang rumit: pendapatan mencapai rekor, tetapi kerugian tetap berlanjut hingga tahun ketujuh. Beban pembiayaan yang melonjak, kompensasi pelatih yang dipecat, dan investasi besar untuk stadion baru menjadi faktor utama di balik kondisi tersebut. Di sisi lain, pemangkasan biaya dan penurunan beban gaji menunjukkan upaya nyata untuk merapikan struktur keuangan.

Ke depan, kembalinya klub ke Liga Champions serta masuknya dana sponsor baru menjadi penopang utama target pendapatan £740 juta hingga £760 juta. Namun, selama utang bersih masih menanjak dan biaya pembiayaan belum mereda, disiplin anggaran kemungkinan tetap menjadi kata kunci dalam setiap keputusan klub, termasuk di pasar transfer.