Empat pelatih baru tim nasional besar menjadi sorotan utama dalam edisi terbaru buletin sepak bola Football Daily. Jürgen Klopp resmi menangani Jerman, Xavi Hernández memimpin Belanda, Roberto Mancini kembali ke kursi Italia, dan Zinedine Zidane akhirnya mengambil alih Prancis. Keempat nama itu digambarkan sebagai “anjing-anjing besar” di antara kawanan tim nasional, kelompok elite yang setiap kali melakukan perombakan kursi kepelatihan selalu menyedot perhatian lebih besar dibanding negara-negara lain.
Gelombang pergantian ini bukan fenomena tunggal. Catatan Football Daily menyebut ada 17 pelatih berbeda yang membawa timnya ke Amerika Utara dalam turnamen yang oleh buletin tersebut dijuluki Piala Dunia Geopolitik, dan sejak itu semuanya sudah meninggalkan posisinya. Nama-nama seperti Steve Clarke, Roberto Martínez, hingga Marcelo Bielsa termasuk di dalam daftar itu. Bagi empat negara besar tadi, perubahan arah justru datang dari figur sekaliber juara Liga Champions dan juara Eropa, sehingga wajar bila perhatian publik tertuju ke sana.
Pelatih Baru Tim Nasional Besar: Dari Jerman sampai Prancis
Jerman: Jürgen Klopp
Klopp mengambil alih kursi kepelatihan Jerman setelah Julian Nagelsmann memutuskan mundur. Sebelumnya, Klopp sempat dituding memanfaatkan perannya sebagai komentator televisi untuk menggerogoti posisi pelatih berusia 39 tahun itu selama turnamen berlangsung, sehingga pergantian tersebut tidak terlalu mengejutkan. Ia langsung melontarkan kritik ke arah media Jerman dan akan memulai karier pertamanya di level tim nasional dengan lawatan ke Belanda.
Berbeda dari pendahulunya, mantan bos Liverpool itu disebut tidak akan datang ke sesi latihan dengan papan skate. Tantangan terbesarnya justru soal waktu: ia hanya bisa mengumpulkan para pemain di ruang latihan tiga atau empat kali dalam satu musim, sementara ia ingin menanamkan gaya sepak bola heavy metal yang menuntut kebiasaan kolektif. “Ini puncak, titik tertinggi dalam karier kepelatihan saya,” ujarnya, yang menurut Football Daily memicu kerutan skeptis di Merseyside. “Saya akan memberikan segalanya.”
Belanda: Xavi Hernández
Xavi menggantikan Ronald Koeman dan langsung menegaskan kedekatannya dengan sepak bola Belanda. Debutnya bersama Barcelona dulu diberikan oleh Louis van Gaal, dan saat diperkenalkan sebagai pelatih Belanda ia menyebut nama legenda Johan Cruyff serta Rinus Michels. Ia merupakan pilihan ketiga dari empat kandidat, di bawah Pep Guardiola dan Arne Slot, sehingga setidaknya ia bisa tenang karena federasi Belanda menilainya sedikit lebih glamor dibanding Michael Reiziger.
Laga pertamanya bersama Belanda mempertemukannya dengan sesama pelatih anyar. “Saya merasa termotivasi karena kami bermain melawan Jerman,” katanya menjelang laga pembuka di Amsterdam. “Jadi ya, ini tantangan besar sejak awal, tetapi saya rasa kami akan siap.” Duel itu sekaligus menjadi ujian pertama bagi dua pelatih yang baru menjejak dunia tim nasional.
Italia: Roberto Mancini
Italia menelan pil pahit karena gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kali berturut-turut, dan federasi memilih jalan kembali ke masa lalu saat mencari pengganti Gennaro Gattuso. Mancini kembali untuk periode kedua setelah sebelumnya membawa Italia juara Piala Eropa 2021, lalu gagal meloloskan tim pada 2022. “Saya percaya orang terbaik untuk menjadi pelatih kepala adalah Roberto Mancini,” ujar petinggi FIGC, Giovanni Malagò.
Pernyataan itu muncul tak lama setelah rencana federasi memasang Andrea Pirlo gagal karena keterkaitan komersial sang mantan gelandang dengan sebuah perusahaan taruhan asal Rusia. Penggemar Azzurri dikenal sebagai bangsa yang sabar soal tim nasional, sehingga kecil kemungkinan mereka ribut jika hasil awal melawan Belgia dan Turki tidak sesuai harapan.
Prancis: Zinedine Zidane
Pertanyaan soal Zidane bukan lagi “apakah”, melainkan “kapan” ia menangani tim nasional Prancis. Meski datang dengan rekam jejak tiga kali juara kompetisi elite Eropa bersama Real Madrid, ia tetap harus mengisi sepatu yang sangat besar setelah menggantikan Didier Deschamps. Dalam pidato perkenalannya, Zizou memainkan semua nada yang tepat.
“Saya sudah menantikan momen ini,” ujarnya. “Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Tim nasional Prancis adalah hal terindah yang pernah terjadi dalam hidup saya. Ini petualangan hebat yang saya harap baru saja dimulai.” Kylian Mbappé bahkan menyebut prospek bekerja di bawah Zidane “seperti sebuah film”. Sukses atau gagalnya film itu, menurut Football Daily, hampir pasti ditentukan oleh ada atau tidaknya chemistry antara dua ikon terbesar sepak bola Prancis tersebut.
Latar Belakang: 17 Pelatih Hengkang dan Wajah Baru di Liga Negara
Perombakan di empat negara besar itu hanyalah puncak gunung es. Di Eropa, sejumlah tim akan memasuki Liga Negara dengan manajemen baru, mulai dari Portugal yang kini ditangani Jorge Jesus, Kroasia bersama Slaven Bilic, Skotlandia dengan Sébastien Pocognoli, Ceko oleh Santi Denia, sampai Belgia yang dipercayakan kepada Mark van Bommel. Artinya, hampir seluruh peta kepelatihan Eropa sedang bergerak dalam satu waktu.
Yang menarik, tidak semua pelatih yang tampil kurang memuaskan dalam turnamen itu kehilangan pekerjaannya. Thomas Tuchel, menurut sindiran Football Daily, masih bertahan di kursinya di FA. Sementara itu, pergantian terbesar terjadi justru di negara-negara yang punya ekspektasi tinggi dan basis penggemar besar, karena kegagalan di sana langsung berbuntut pada tuntutan perubahan.
Keputusan federasi menghadirkan kembali nama-nama lama seperti Mancini menunjukkan pola yang berulang: ketika tekanan meningkat, pengambil kebijakan cenderung memilih figur yang sudah terbukti di level internasional. Pendekatan itu memberi rasa aman jangka pendek, meski belum tentu menyelesaikan persoalan yang membuat tim gagal sebelumnya.
Dampak: Apa Artinya bagi Keempat Tim
Bagi Jerman, kehadiran Klopp berarti taruhan pada intensitas dan emosi. Gaya heavy metal yang ia usung butuh waktu untuk tertanam, padahal waktu bersama pemain di level tim nasional sangat terbatas. Kalau ia berhasil menyesuaikan metodenya, Jerman bisa berubah menjadi tim yang jauh lebih agresif; kalau tidak, kritik dari media yang sudah ia picu sendiri bisa menumpuk cepat.
Bagi Belanda, Xavi membawa nama besar sebagai pemain, tetapi posisinya sebagai pilihan ketiga menunjukkan bahwa ia bukan kandidat utama federasi. Ia perlu membuktikan bahwa kedekatan kultural yang ia tonjolkan bisa diterjemahkan menjadi permainan efektif. Italia mengambil risiko berbeda: mengembalikan pelatih yang pernah membawa trofi, sekaligus pernah menorehkan kegagalan.
Prancis menghadapi situasi paling sensitif. Kombinasi Zidane dan Mbappé menjanjikan daya tarik besar, baik di lapangan maupun di luar. Namun ketika dua sosok dominan berada dalam satu ruang ganti, keseimbangan peran menjadi taruhan. Semua mata akan tertuju pada bagaimana keduanya membagi pengaruh.
Konteks Lebih Luas: Tren Pelatih Klub Bintang ke Tim Nasional
Langkah Klopp, Zidane, dan Mancini menegaskan tren yang sudah terlihat beberapa tahun terakhir: pelatih dengan karier gemilang di level klub semakin sering beralih menangani tim nasional. Alasan praktisnya sederhana, pekerjaan di tim nasional tidak menuntut ritme harian sepanjang musim, sehingga cocok bagi pelatih senior yang ingin tantangan berbeda setelah bertahun-tahun menangani klub.
Konsekuensinya, ukuran keberhasilan ikut bergeser. Tidak ada kompetisi mingguan untuk dijadikan tolok ukur, sehingga penilaian publik lebih banyak bergantung pada turnamen besar dan laga-laga uji coba. Pertemuan Belanda melawan Jerman di Amsterdam akan menjadi contoh awal bagaimana duel antar pelatih baru dibaca sebagai pertarungan gengsi sebelum turnamen sesungguhnya.
Di sisi lain, negara-negara dengan tradisi kuat kini berlomba menghadirkan nama besar agar tidak tertinggal, baik secara teknis maupun dari sisi daya tarik komersial. Dinamika inilah yang membuat bursa pelatih tim nasional terasa seperti pasar bintang, bukan sekadar rotasi teknis biasa.
Catatan Lain dari Football Daily
Selain soal pelatih, edisi ini juga memuat kisah Andros Townsend yang mengenang momen mengerikan saat tubuhnya tertimpa mesin penggilas lapangan di Thailand. “Setiap kali saya melihatnya, saya meringis dan tidak percaya. Untungnya saya berhasil jatuh ke lantai pada waktu yang tepat, jadi tidak ada yang patah saat penggilas itu melewati saya,” katanya, seraya bersyukur hanya mengalami luka lecet.
Buletin itu juga menyoroti kartunis David Squires yang mengangkat tema kemunduran imperium, serta menobatkan surat pembaca dari Jonathan Foulkes sebagai surat terbaik. Foulkes menulis kenangan panjang tentang masa mudanya sebagai penggemar Ipswich Town dan sosok Johnny Crumplin, yang justru mendapat hadiah buku Behind the Curtain karya Jonathan Wilson. Ada pula keluhan pembaca bernama Nigel Sanders yang meminta semua pihak berhenti membahas perebutan Sepatu Emas padahal musim baru berjalan lima pertandingan.
Penutup
Empat pelatih baru tim nasional besar membawa harapan sekaligus risiko yang sama besarnya. Klopp harus cepat menyesuaikan gaya heavy metal-nya, Xavi mesti membuktikan bahwa ia bukan sekadar nama glamor, Mancini dituntut memperbaiki luka kegagalan Italia, dan Zidane harus menjaga harmoni dengan Mbappé. Sementara itu, 17 pelatih yang hengkang menjadi pengingat bahwa dalam sepak bola internasional, nama besar saja tidak cukup untuk mempertahankan kursi.
Laga-laga awal seperti Belanda melawan Jerman akan menjadi gambaran pertama seberapa jauh perubahan ini berjalan sesuai rencana. Bagi para penggemar, daya tariknya bukan hanya soal hasil, melainkan bagaimana empat figur berbeda mencoba membangun ulang identitas tim masing-masing.
