Klub Eropa Bakal Terima Dana Solidaritas Club World Cup

Klub-klub divisi teratas Eropa dipastikan akan menerima separuh dari dana solidaritas Club World Cup senilai 250 juta dolar AS atau setara £185 juta. Kesepakatan ini menutup polemik berkepanjangan yang selama ini membuat geram klub-klub yang tidak ambil bagian dalam turnamen tersebut. FIFA dan European Football Clubs (EFC) kini berada di tahap akhir negosiasi untuk membagi dana itu secara 50-50, antara klub di Eropa dan klub di belahan dunia lain.

Dana tersebut sejak awal disisihkan agar Club World Cup memberi manfaat bagi ekosistem sepak bola secara lebih luas, bukan hanya bagi peserta turnamen. Rencananya, uang baru akan disalurkan setelah kesepakatan resmi diratifikasi. Bagi banyak klub, terutama dari liga-liga kecil, kepastian ini penting karena dana solidaritas kerap menjadi pemasukan yang membantu menutup kebutuhan operasional mereka.

Rincian Pembagian Dana Solidaritas Club World Cup

Menurut skema yang tengah dibahas, separuh dari total 250 juta dolar AS, yakni 125 juta dolar AS, akan menjadi jatah klub-klub Eropa. Sisanya dialokasikan untuk klub di luar Eropa. EFC sebenarnya menginginkan porsi sedikit di atas 60 persen, tetapi akhirnya melunak setelah FIFA bersikeras agar distribusinya lebih merata secara global.

Sebagian dari 125 juta dolar AS itu akan diberikan kepada seluruh klub divisi teratas Eropa yang tidak terlibat dalam Club World Cup. Besaran yang diterima tiap klub tidak sama, karena dihitung berdasarkan berapa musim klub tersebut berlaga di level teratas antara 2021 hingga 2024. Selain itu, ada alokasi tersendiri bagi klub dengan performa terbaik di kompetisi klub UEFA pada periode yang sama, dengan syarat mereka juga tidak tampil di turnamen yang digelar di Amerika Serikat pada 2025.

Kombinasi dua kriteria itu membuka peluang adanya rentang pembayaran yang sangat lebar antarklub. Klub yang konsisten berada di kasta tertinggi sekaligus berprestasi di Eropa berpeluang mendapat porsi jauh lebih besar dibanding klub yang hanya sesekali tampil di level itu.

Latar Belakang: Negosiasi Alot dan Ancaman Boikot

Jalan menuju kesepakatan ini tidak mulus. Klub-klub dari liga yang lebih kecil disebut sangat kesal dengan proses yang berlarut-larut, terutama karena dana tersebut bagi mereka bisa menjadi penyelamat keuangan. Ketidakjelasan waktu pencairan membuat perencanaan finansial klub-klub ini ikut terganggu.

Ketegangan memuncak ketika EFC mengirim surat yang mengancam tidak akan bekerja sama dengan penyelenggaraan Club World Cup di masa depan jika Gianni Infantino tidak menarik skema Fifa Forward Enterprise. Dalam surat yang sama, EFC menyebut belum adanya solusi soal pembayaran solidaritas Club World Cup sebagai kekecewaan serius bagi EFC dan klub-klub anggotanya.

Ancaman tersebut menunjukkan hubungan antara FIFA dan perwakilan klub Eropa sempat berada di titik terendah. Meski demikian, kedua pihak tetap melanjutkan pembicaraan hingga akhirnya menemukan titik tengah soal pembagian dana.

Dampak bagi Klub: Chelsea, Liverpool, dan Liga Kecil

Juara Club World Cup, Chelsea, sudah lebih dulu menikmati hasil dari turnamen itu. Klub London tersebut menerima pembayaran £84 juta dari total £740 juta yang disisihkan sebagai hadiah uang. Angka itu jauh melampaui apa pun yang mungkin diterima klub non-peserta dari dana solidaritas.

Meski begitu, dana solidaritas tetap berarti, terutama bagi klub di luar kalangan elite. Klub dengan rekam jejak kuat di kompetisi Eropa seperti Liverpool, runner-up Liga Champions 2022, masuk dalam kelompok yang berpeluang menerima pembayaran di skala atas. Sebaliknya, klub yang baru sesekali tampil di divisi teratas harus puas dengan porsi yang lebih kecil.

Perbedaan besaran ini memunculkan pertanyaan soal seberapa merata dana tersebut benar-benar bisa dirasakan. Klub-klub dari liga kecil berharap skema pembagian tidak sekadar menguntungkan tim-tim besar yang memang sudah punya pendapatan jauh lebih tinggi.

Jadwal Ratifikasi dan Peta Politik Sepak Bola Dunia

EFC dijadwalkan menggelar general assembly di Kopenhagen pada Selasa. Kesepakatan soal dana solidaritas kemungkinan dikonfirmasi setelah mendapat persetujuan dari FIFA council, yang rencananya bertemu di Zurich pada 15 Oktober. Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafström, diperkirakan termasuk delegasi yang hadir di Kopenhagen.

Di sisi lain, kerja sama yang lebih luas antara EFC dan FIFA masih menggantung. Joint venture yang dimaksudkan untuk mengelola sisi komersial kompetisi klub global tetap ada di meja, tetapi kecil kemungkinannya ditandatangani dalam waktu dekat. Ketidakpastian ini tidak lepas dari gejolak di kepemimpinan sepak bola dunia.

Infantino tercatat pernah berbicara di general assembly EFC di Roma tahun lalu, namun kemungkinan besar tidak mengulanginya kali ini. Alasannya, ia berpotensi bertemu langsung dengan pihak-pihak yang berseberangan, termasuk Presiden UEFA Aleksander Ceferin. Pada Senin, Infantino justru memilih terbang ke Riga untuk meresmikan kantor baru Asosiasi Sepak Bola Latvia sebagai upaya memperkuat posisinya di Eropa.

Apa yang Perlu Dicermati Berikutnya

Kepastian resmi baru akan diperoleh setelah FIFA council mengambil keputusan. Setelah itu, mekanisme pencairan dan perhitungan per klub akan menjadi sorotan, karena di sinilah potensi ketidakpuasan muncul. Klub-klub yang merasa porsinya tidak adil bisa kembali mempertanyakan dasar perhitungan yang dipakai.

Selain itu, hubungan FIFA dengan perwakilan klub Eropa akan menjadi indikator penting. Jika joint venture komersial kembali dibahas secara serius, itu tanda ketegangan mulai mereda. Namun bila prosesnya mandek, konflik soal tata kelola sepak bola dunia berpotensi berlanjut.

Dana solidaritas Club World Cup senilai 250 juta dolar AS akhirnya menemukan titik terang setelah negosiasi panjang antara FIFA dan EFC. Klub-klub Eropa akan menerima separuh dari dana itu, dibagi berdasarkan jumlah musim di divisi teratas dan performa di kompetisi UEFA. Liverpool menjadi salah satu klub yang berpeluang mendapat porsi besar, sementara Chelsea lebih dulu menikmati hadiah uang sebagai juara.

Seberapa cepat uang benar-benar sampai ke klub kini bergantung pada ratifikasi di Kopenhagen dan Zurich. Bagi klub-klub kecil, kepastian ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal keberlanjutan mereka menjalani musim-musim berikutnya.