Thomas Tuchel menegaskan bahwa membiarkan para pemain timnas Inggris atau klub mereka memilih-milih pertandingan selama jendela Nations League yang lebih panjang adalah “kegilaan”. Ia pun berjanji akan tampil habis-habisan demi meraih kemenangan atas Ceko di Praha pada Selasa. Pernyataan ini keluar saat Inggris tengah menghadapi jadwal tiga laga dalam waktu berdekatan.
Pernyataan tersebut sekaligus menutup pintu bagi segala bentuk kompromi soal menit bermain. Tuchel tidak ingin ada negosiasi dengan manajer klub, meski ia sadar bahwa memainkan pemain yang sama secara terus-menerus bisa jadi tidak realistis. Dengan kata lain, ia memilih menanggung risikonya sendiri daripada membagi beban bersama pihak lain.
Tuchel Tolak Bicara soal Menit Bermain dengan Klub
Menurut Tuchel, dirinya tidak pernah menerima telepon dari manajer klub di Premier League untuk membahas pemainnya. Ia menegaskan bahwa ketika masih menangani klub, ia juga tidak pernah menelepon pelatih tim nasional mana pun. Sebabnya, mengatur menit bermain pemain dari jarak jauh dinilainya sebagai hal yang benar-benar mustahil dilakukan.
“Saya tidak menerima telepon dari manajer Premier League,” kata Tuchel. “Saya tidak pernah menelepon pelatih tim nasional mana pun. Saya tidak bisa mengatur menit bermain para pemain. Itu mustahil. Dulu sebagai pelatih klub, saya tahu kalau saya menelepon pelatih di Brasil atau Argentina, mereka tidak akan tahu apa yang saya bicarakan. Para pemainnya juga tidak akan paham.”
Ia lantas mempertanyakan alasan di balik gagasan tersebut. Menurut Tuchel, memberi kesan bahwa pemain boleh mundur selangkah, berbagi satu babak, atau beristirahat di satu pertandingan hanya akan merusak mentalitas tim. Karena itu ia menolak melakukannya, bahkan menyebutnya sebagai kegilaan. Targetnya jelas: memenangi laga berikutnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa skenario idealnya bukan berarti rotasi benar-benar bisa dihindari. Tuchel ingin enam atau tujuh pemain tetap menjadi starter agar tanggung jawab dan kepercayaan bisa dirasakan langsung oleh mereka. “Saya sangat ingin tidak merotasi, tapi saya tidak yakin itu mungkin,” ujarnya.
Declan Rice Jadi Pengecualian yang Tak Bisa Dipaksakan
Satu nama yang memang tidak masuk dalam skuad adalah Declan Rice. Gelandang Arsenal itu harus beristirahat karena beban kerjanya yang berat selama beberapa musim terakhir, ditambah persoalan kebugaran yang sudah lama menjadi perhatian publik. Keputusan ini menunjukkan bahwa Tuchel tetap mempertimbangkan kondisi individu meski menolak rotasi secara umum.
Kendati absen, Rice tetap hadir di Wembley pada Sabtu untuk menyaksikan rekan-rekannya kalah 3-2 dari Spanyol pada laga pembuka Nations League. Kehadirannya memperlihatkan bahwa ia masih bagian dari proyek yang sedang dibangun Tuchel. Ia hanya perlu jeda sebelum kembali masuk ke dalam rencana tim.
Kasus Rice menjadi gambaran nyata dari dilema yang dihadapi Tuchel. Di satu sisi, ia ingin menjaga standar dan mentalitas bertanding skuadnya. Di sisi lain, ada pemain-pemain dengan riwayat kebugaran yang rawan dan tak bisa diperlakukan sama seperti yang lain. Keputusan soal Rice memperlihatkan bahwa batas antara prinsip dan kebutuhan praktis tetap harus dicari.
Jadwal Padat dan Tekanan Usai Kekalahan dari Spanyol
Setelah bertandang ke Praha, Inggris dijadwalkan menuju Rijeka untuk menghadapi Kroasia pada Sabtu. Selanjutnya, mereka kembali ke Wembley untuk menjamu Ceko pada Selasa pekan berikutnya. Artinya, dalam rentang sekitar sepekan, skuad Inggris harus melakoni tiga pertandingan internasional dengan intensitas tinggi.
Kekalahan dari Spanyol membuat tekanan menjelang laga di Praha otomatis meningkat. Meski demikian, Tuchel mengaku tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia menilai situasi tersebut masih sepenuhnya bisa dikendalikan oleh timnya.
“Itu bukan hal yang tidak bisa kami tangani,” kata Tuchel. “Kami perlu bersikap proaktif dan menyerang. Tidak ada ruang untuk mengelola pemain atau bermain dengan gaya ekonomis. Ini soal bagaimana tim ingin bermain, bagaimana kami ingin bermain, jadi ayo kita jalan.”
Jude Bellingham dan Gaya Bermain All-or-Nothing
Jude Bellingham tampil garang saat melawan Spanyol. Ia menciptakan lima peluang, terbanyak di laga tersebut, termasuk assist untuk gol penyama kedudukan Anthony Gordon menjadi 1-1. Ia juga merebut penalti yang gagal dieksekusi Harry Kane, serta berulang kali membawa bola dan merepotkan barisan pertahanan juara dunia itu.
Pertanyaannya, apakah Bellingham mampu mempertahankan gaya mainnya untuk tiga laga Inggris dalam waktu berdekatan. Tuchel menilai gaya tersebut memang satu-satunya cara Bellingham bermain. Namun ia juga mengakui ada catatan penting soal kondisi fisik pemainnya itu.
“Itu satu-satunya gaya yang bisa dia mainkan,” ujar Tuchel. “Itu memang permainannya. Bukan permainan yang ekonomis. Kita lihat saja. Saya akan senang melihatnya empat kali di atas lapangan. Kekhawatirannya adalah dia belum melakukannya musim ini di periode padat seperti ini. Kami perlu memeriksanya bersama fisioterapis. Kami tidak akan mengambil risiko apa pun terhadap Jude.”
Pada menit ke-35, Bellingham terlibat bentrok dengan rekan setimnya di Real Madrid, Marc Cucurella. Menurut Tuchel, momen semacam itu justru membuat Bellingham tampil lebih baik karena permainannya memang lebih hidup saat ada sedikit amarah. Ia menambahkan bahwa selama pertandingan internasional, Bellingham tidak menganggap siapa pun sebagai rekan setim Madrid, meski tetap berteman di luar 90 menit laga.
Seberapa Dekat Inggris dari Tim Terbaik Dunia?
Laga melawan Spanyol berlangsung liar. Inggris kebobolan lebih dulu dan bisa saja tertinggal empat atau lima gol pada menit ke-35 karena pertahanan mereka tampak longgar. Mereka kemudian bangkit dan memimpin 2-1 pada babak pertama sebelum pertandingan berbalik arah setelah penalti Kane gagal pada menit ke-54, tepat ketika kaki tumpuannya terasa lepas.
Tuchel menilai kegagalan penalti itulah titik balik pertandingan. Menurutnya, andai Harry Kane tidak tergelincir, Inggris akan menang dan unggul dua gol. Ia juga menekankan bahwa sebelum momen tersebut, timnya jelas tampil lebih baik, meski Spanyol sama sekali tidak kehilangan ketenangan.
Meski yakin kemenangan sebenarnya pantas diraih, Tuchel menolak menjadikan laga itu sebagai tolok ukur berlebihan. Kemenangan atas Spanyol tidak akan otomatis membuat Inggris menjadi favorit Piala Eropa. Ia memilih melihatnya sebagai satu langkah dalam proses yang harus dijalani secara bertahap.
“Kalau kami menang, kami pantas mendapatkannya, tapi itu tidak akan membuat kami jadi favorit Piala Eropa,” kata Tuchel. “Kami perlu melangkah setahap demi setahap. Mereka datang dengan tim terkuat. Kami kehilangan beberapa pemain kunci. Saya puas dengan penampilan ini. Kami bisa saja memenangi laga, dan ternyata tidak.”
Yang menjadi sorotan utama dari seluruh rangkaian ini adalah konsistensi sikap Thomas Tuchel. Ia memilih mempertahankan prinsip soal menit bermain, sembari tetap membuka ruang bagi pengecualian yang benar-benar diperlukan. Dengan jadwal tiga laga dalam sepekan, ketegasan sekaligus kehati-hatiannya akan langsung diuji di Praha, Rijeka, dan Wembley.
