Kemenangan Dramatis Argentina atas Inggris
Tim nasional Argentina merayakan kemenangan dramatis atas Inggris di semifinal Piala Dunia dengan mengangkat spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”. Spanduk itu merujuk langsung pada Perang Falklands tahun 1982, menunjukkan bahwa Argentina kalahkan Inggris tidak hanya di lapangan tetapi juga mengusung narasi politik yang kuat.
Dalam pertandingan yang berlangsung di Atlanta, Argentina tertinggal 1-0 hingga lima menit sebelum pertandingan berakhir. Namun, mereka berhasil membalikkan keadaan dengan dua gol cepat. Kemenangan ini membawa mereka lolos ke final Piala Dunia kedua secara beruntun, di mana mereka akan menghadapi Spanyol di New Jersey pada hari Minggu.
Spanduk Malvinas dan Konflik 1982
Spanduk tersebut menyentuh sengketa wilayah yang dikenal sebagai Kepulauan Falkland di Inggris dan Islas Malvinas di Argentina. Konflik bersenjata selama 74 hari pada 1982 telah merenggut nyawa 649 tentara Argentina dan 255 tentara Inggris. Bagi rakyat Argentina, momen ketika Argentina kalahkan Inggris di Piala Dunia sering dikaitkan dengan semangat patriotik dan pengingat akan peristiwa kelam tersebut.
Pemain Lisandro Martínez dan Giovani Lo Celso terlihat tersenyum dan melambai ke penonton sambil memegang spanduk itu. Belum diketahui secara pasti dari mana spanduk tersebut berasal, apakah dari pendukung atau dibawa oleh tim sendiri.
Konteks Politik di Panggung Sepak Bola
Bukan kali pertama spanduk politik muncul di Piala Dunia. Sebulan sebelumnya di Los Angeles, warga Iran-Amerika mengibarkan bendera pra-revolusi sebagai simbol protes terhadap pemerintah Teheran saat Iran bertanding. Pertandingan tersebut berlangsung tanpa insiden berarti. Kali ini, Argentina kalahkan Inggris menjadi panggung kembali merebaknya simbol-simbol politik yang dilarang oleh FIFA.
Reaksi Pemain dan Sikap FIFA
Setelah mengalahkan Swiss di perempat final, beberapa pemain Argentina diteriaki meneriakkan: “Untuk Malvinas, untuk Diego [Maradona], dan untuk Leo [Messi] yang terakhir.” Gelandang Rodrigo De Paul menjelaskan bahwa para pemain memahami laga ini melampaui sekadar olahraga. “Kami menyanyikan lagu tentang pahlawan Malvinas untuk mengenang mereka. Tapi kami sadar ini pertandingan sepak bola, dan masalah Malvinas harus dibahas di forum lain. Apa yang dulu terjadi adalah kekejaman, dan kami selalu menghormati yang gugur. Namun yang kami inginkan saat ini adalah memenangkan pertandingan menuju final,” ujarnya.
FIFA memiliki kode etik stadion yang melarang spanduk, bendera, atau atribut yang bersifat politik, ofensif, atau diskriminatif. Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait spanduk yang diangkat oleh pemain Argentina saat Argentina kalahkan Inggris.
Keamanan Diperketat untuk Final
Menteri Keamanan Argentina, Alejandra Monteoliva, pada Selasa (hari setelah pertandingan) mengatakan bahwa pengamanan telah ditingkatkan setelah rapat di AS pada Senin. “Akan ada 1.600 petugas. Kami ingin perayaan berlangsung damai,” katanya kepada radio lokal Argentina. Ia menambahkan bahwa barang-barang yang membawa pesan provokatif, baik bermuatan politik maupun rasial, dilarang masuk ke dalam stadion. Langkah ini diambil untuk mencegah insiden serupa atau eskalasi saat final nanti.
Dengan Argentina kalahkan Inggris di semifinal, perhatian kini tertuju pada partai puncak melawan Spanyol. Namun, isu spanduk Malvinas dipastikan akan terus menjadi sorotan, terutama terkait batas antara semangat sepak bola dan ekspresi politik di ajang olahraga dunia.
