Pertandingan Austria vs Aljazair di babak grup Piala Dunia menyajikan drama yang tak terlupakan. Laga yang berlangsung di Kansas City itu berakhir imbang 3-3, hasil yang menguntungkan kedua tim sekaligus menghancurkan harapan Iran untuk melaju ke babak gugur. Sejak awal, laga ini dijuluki “biscotto”—istilah Italia untuk sesuatu yang dipanggang dua kali, mengisyaratkan kerja sama antarkedua tim. Sebagian penggemar juga menyebutnya “Aib Kansas City”, mengingatkan pada “Aib Gijón” di Piala Dunia 1982, ketika Jerman Barat dan Austria sama-sama lolos dengan hasil yang kontroversial.
Latar Belakang: Ancaman Kolusi di Grup
Kemenangan 1-0 Jerman Barat atas Austria pada 1982 membuat Aljazair tersingkir meski mereka menang di laga sebelumnya. Kini, empat dekade kemudian, situasi serupa terulang. Aturan baru FIFA dengan 48 peserta membuat delapan tim peringkat ketiga terbaik juga lolos. Kondisi ini membuka celah bagi kedua tim untuk bermain aman demi hasil imbang. Kekhawatiran muncul bahwa Austria vs Aljazair akan berjalan santai, tanpa intensitas tinggi. Namun, para pemain justru menunjukkan perlawanan sengit selama sebagian besar pertandingan.
Babak Pertama: Aksi Jual Beli Serangan
Gol Pembuka Austria
Cuaca lembap dan panas tidak menyurutkan semangat. Aljazair tampak kesulitan, sering kehilangan bola. Austria memanfaatkannya pada menit ke-28. Umpan lambung David Alaba dari belakang menemukan Marko Arnautovic yang menerobos kiper Aljazair, Oussama Benbot. Arnautovic dengan tenang mencungkil bola masuk ke gawang. Keunggulan 1-0 membuat Austria sedikit mundur, mengundang tekanan lawan.
Balasan Cepat Aljazair
Pertandingan Austria vs Aljazair berubah kacau saat Aljazair menyamakan kedudukan. Bola panjang memantul dari tiang sudut, dan Phillipp Mwene menarik Riyad Mahrez di kotak penalti. Wasit, dalam keputusan terbaik malam itu, membiarkan permainan berlanjut. Rafik Belghali langsung memanfaatkan bola liar, melepaskan tembakan yang membentur pemain lawan, lalu menceploskan bola dari dalam kotak penalti ke atap gawang. Skor 1-1 bertahan hingga jeda, namun tensi perlahan meningkat.
Babak Kedua: Gol Bergantian Hingga Detik Akhir
Gol Lagi untuk Austria
Setelah turun minum, Austria kembali unggul melalui skema yang mirip. Konrad Laimer menggiring bola dari sayap kanan, memotong ke tengah, lalu memberi umpan kepada Marcel Sabitzer yang dengan mudah menyontek bola di tiang jauh. Unggul 2-1, Austria kembali menekan, tapi kebiasaan menurunkan intensitas kembali terulang.
Mahrez Menjawab
Tekanan Aljazair membuahkan hasil pada menit ke-60. Houssem Aouar melakukan penetrasi dan memberikan umpan tarik yang diselesaikan Mahrez menjadi gol. Skor imbang 2-2. Kedua tim seakan menyepakati gencatan senjata sementara. Para pemain mulai banyak mengoper bola ke samping, penonton bersorak dan bersiul mengecam sikap pasif itu.
Drama di Menit Tambahan
Namun, ketenangan itu terusik saat Mahrez mencetak gol lagi pada menit ke-90+3. Gol tersebut membuat suporter Aljazair histeris, dan irisan penonton yang mendukung mereka—terkait dengan markas latihan Aljazair di Lawrence, Kansas—bersorak riuh. Iran untuk sesaat berada di ambang kelolosan, tetapi pesta itu berakhir seketika. Hanya semenit kemudian, Sasa Kalajdzic yang baru masuk sundul bola dari umpan silang putus asa, memastikan hasil akhir 3-3.
Dampak: Austria dan Aljazair Lolos, Iran Tersingkir
Hasil imbang ini memastikan Austria vs Aljazair menjadi laga bersejarah. Untuk pertama kalinya sejak 1982, Austria lolos ke babak gugur Piala Dunia. Aljazair sendiri kembali ke fase tersebut setelah terakhir kali melakukannya pada 2014. Bagi Iran, pesta yang sempat tercium berubah menjadi kepahitan. Pertandingan ini menjadi contoh sempurna bagaimana format baru Piala Dunia bisa menciptakan skenario di mana kedua tim diuntungkan, namun dengan cara yang dramatis dan penuh emosi.
Dengan sekitar 69.045 penonton memadati Stadion Kansas City, malam yang lembap itu berubah menjadi saksi lahirnya legenda baru. Alih-alih aib, laga ini justru menyajikan hiburan kelas tinggi—enam gol, serangan balik cepat, dan akhir yang tak terduga. Bagi penggemar sepak bola, Austria vs Aljazair adalah pengingat bahwa sepak bola selalu menyimpan kejutan, bahkan ketika tampaknya semua pihak telah sepakat.
