Drama Liga Champions Melimpah, Kenapa Terasa Hampa?

Drama Liga Champions kembali tersaji dalam pekan pertandingan yang penuh gol dan comeback. Tercatat 40 gol tercipta dalam sembilan laga, dengan enam di antaranya lahir saat Paris Saint-Germain bangkit melawan Barcelona. Namun, di balik tontonan itu, muncul pertanyaan: mengapa sebagian penggemar justru merasa hampa?

Rasa hampa itu bukan karena kurangnya hiburan, melainkan karena format baru dengan tabel 36 tim dianggap mengurangi risiko. Dalam sistem ini, kekalahan tidak selalu berujung petaka, sehingga ketegangan khas fase grup lama memudar. Artikel harian Guardian Football Daily menyoroti bagaimana klub-klub besar seperti PSG dan Liverpool tetap dapat melaju dengan nyaman meski tidak selalu tampil sempurna.

Gol dan Comeback yang Menghibur

Pekan ini menawarkan hampir semua elemen yang dicari penonton: gol banyak, comeback, dan momen individu. Porto vs PSV memang berakhir 0-1 dan sempat disorot sebagai laga yang kurang menggairahkan di tengah pesta gol. Namun secara keseluruhan, sembilan pertandingan menghasilkan 40 gol, angka yang menunjukkan betapa terbukanya pertandingan.

Laga PSG vs Barcelona menjadi pusat perhatian karena enam gol lahir di sana. PSG melakukan comeback di akhir pertandingan, sementara Lamine Yamal tetap meninggalkan jejak lewat penyamaan dengan sentuhan ujung kaki yang mengejutkan. Momen seperti ini menjelaskan mengapa drama Liga Champions tetap magnetik bagi penonton netral.

Di Italia, Scott McTominay mencetak dua gol saat Napoli menang 4-3 atas Bodø/Glimt. Itu menjadi gol pertamanya setelah kembali dari operasi jantung, sekaligus membawa totalnya di klub menjadi 29 gol dalam 86 penampilan. Erik ten Hag disebut kesal kepada petinggi Manchester United karena melepas gelandang itu ke Napoli.

Format 36 Tim dan Hilangnya Ketegangan

Kritik utama tertuju pada tabel 36 tim yang membuat fase liga terasa kurang berisiko. Tanpa ancaman tersingkir yang langsung, sebuah kekalahan bisa diperbaiki di laga-laga berikutnya. Inilah yang membuat sebagian penggemar menilai drama Liga Champions terasa artifisial, meski pertandingannya menghibur.

Contohnya PSG pada 2024-25. Mereka finis di peringkat 15 dan hanya mengumpulkan tujuh poin dari enam laga pertama. Dalam format lama, posisi itu berarti finis ketiga di grup dan turun ke kompetisi kedua. Namun pada 2025-26, PSG finis ke-11 dan tetap menerima konsekuensi berupa babak knockout tambahan, bukan eliminasi.

Musim ini PSG tampak lebih nyaman dengan memuncaki klasemen berkat tiga kemenangan dari tiga laga. Liverpool juga memenangi dua pertandingan pertama, tetapi tetap bisa menyajikan comeback dramatis melawan Villarreal. Fakta bahwa klub besar bisa bersantai inilah yang membuat sensasi hampa lebih terasa.

Dampak bagi Klub dan Lawan

Bagi klub besar, format longgar memberi ruang untuk mengatur tenaga dan mengurangi tekanan di awal musim. Mereka bisa memutar pemain atau menyerap hasil buruk tanpa langsung berada di tepi jurang. Namun bagi lawan, kelonggaran ini bisa mengurangi arti pertandingan, karena hasil imbang atau kalah tidak selalu menghapus peluang.

Di sisi lain, lawan tetap bisa merasakan atmosfer besar, seperti yang dialami Villarreal di Anfield. Manajer Iñigo Pérez mengakui bahwa timnya tidak mampu menangani emosi pertandingan. Comeback Liverpool dari ketertinggalan dua gol, dengan Florian Wirtz mencetak gol penentu, menunjukkan bahwa tekanan psikologis tetap nyata di lapangan.

Dampak lain muncul dalam bentuk beban fisik. Format yang padat dan intensitas tinggi berkontribusi pada cedera, seperti yang dialami Khvicha Kvaratskhelia. Ia harus menjalani operasi setelah cedera ACL saat kemenangan 4-2 atas Barcelona, sementara Ousmane Dembélé dan Marquinhos mengalami robekan paha yang membuat mereka absen beberapa pekan.

Konteks Lebih Luas: Hiburan Tanpa Rasa Takut

Liga Champions versi baru memang dirancang untuk menghasilkan lebih banyak pertandingan dan pendapatan. Dengan 36 tim, setiap klub mendapat lebih banyak laga, dan benturan antarklub besar menjadi lebih sering. Namun, semakin banyak pertandingan tidak otomatis menciptakan ketegangan yang sama seperti format grup lama.

Di luar lapangan, tekanan tetap nyata bagi para manajer. Michael Carrick menghadapi situasi sulit karena Manchester United baru mengumpulkan dua kemenangan dalam 11 laga musim ini. Calon lawannya, Cesc Fàbregas, kini berdiri di pinggir lapangan sebagai pelatih Como, setelah dulu dikenal karena insiden melempar pizza ke Sir Alex Ferguson.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa sepak bola tetap kaya cerita, bahkan ketika format kompetisi menuai kritik. Pertanyaannya, apakah drama Liga Champions yang melimpah cukup untuk menutupi hilangnya rasa takut kalah? Sumber Guardian Football Daily tampaknya menjawab belum, setidaknya selama tabel 36 tim masih terasa longgar.

Drama Liga Champions pekan ini membuktikan bahwa hiburan di lapangan masih berlimpah: 40 gol, comeback PSG, dan momen McTominay setelah operasi jantung. Namun kritik terhadap format 36 tim tetap relevan karena risiko tersingkir tidak lagi terasa segera. Ketika klub besar bisa finis di posisi rendah dan tetap melanjutkan perjalanan, ketegangan yang membuat sepak bola mendebarkan ikut berkurang.

Ke depan, evaluasi format tampaknya sulit dihindari jika penggemar terus merasa hampa. Sepak bola memang tidak hanya soal jumlah gol, tetapi juga soal rasa takut kehilangan yang membuat setiap momen berarti. Selama ketegangan itu belum kembali, drama Liga Champions akan tetap memukau sekaligus menyisakan tanda tanya.