Jesse Marsch, pelatih tim nasional putra Kanada, melontarkan kritik tajam soal propaganda Amerika Serikat dalam sebuah wawancara dengan The Guardian. Menurutnya, warga Amerika telah “dibanjiri propaganda” sejak usia muda, sebuah kondisi yang membuat mereka merasa selalu berhak diperlakukan berbeda dari bangsa lain. Kritik itu ia sampaikan saat menanggapi salah satu polemik yang mengguncang sepak bola Amerika Serikat belakangan ini.
Pernyataan tersebut tak lepas dari posisi Marsch yang berada di persimpangan dua dunia. Ia adalah orang Amerika yang kini menetap di Eropa dan memiliki kebun zaitun di vila Tuscany miliknya, tetapi juga memimpin timnas Kanada dengan tingkat dukungan yang tinggi dari publik negara itu. Sikapnya soal hubungan Kanada, Amerika Serikat, dan Eropa menjadi menarik justru ketika hubungan Ottawa dengan Washington terus merenggang.
Kritik soal Propaganda dan Kasus Folarin Balogun
Marsch menilai bahwa masyarakat Amerika Serikat tumbuh dengan narasi bahwa mereka adalah negara nomor satu di dunia dan mendominasi segala aspek kehidupan. Narasi itu, katanya, membuat orang Amerika merasa berhak mendapatkan perlakuan istimewa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan mereka. Sikap semacam itu, menurut Marsch, justru menjadi salah satu hal yang membuat banyak orang di belahan dunia lain kesal terhadap Amerika Serikat, dan orang Amerika sendiri tidak menyadarinya karena jarang meninggalkan negaranya.
Dalam konteks itulah Marsch menyoroti keputusan yang menyangkut Folarin Balogun. Ia menegaskan bahwa hal serupa tidak akan pernah terjadi di negara mana pun selain Amerika Serikat. Menurutnya, Amerika Serikat sempat tampil baik di Piala Dunia musim panas, tetapi momentum itu berbalik dalam sekejap akibat polemik tersebut.
Meski begitu, Marsch tidak serta-merta menuding kasus itu sebagai bukti korupsi atau ketidakadilan murni. Ia justru mengingatkan bahwa sepak bola memang penuh dengan persoalan semacam itu. Baginya, apa yang terjadi pada Amerika Serikat hanyalah salah satu contoh dari masalah yang sudah mengakar di dunia sepak bola secara luas.
Jesse Marsch, Kanada, dan Poros Baru dengan Eropa
Sementara hubungan Kanada dengan tetangganya di selatan memanas dan merenggang, Perdana Menteri Mark Carney justru membangun kedekatan dengan Uni Eropa. Aliansi itu disebut begitu erat hingga blok Eropa tersebut dikabarkan tengah menciptakan kategori keanggotaan baru. Sebagai orang Amerika yang tinggal di Eropa sekaligus pemimpin Kanada dengan tingkat persetujuan tinggi, Marsch mengamati perkembangan ini dengan saksama.
Bagi Marsch, arah itu terasa tepat. Ia mengaku selalu menganggap Kanada lebih mirip Eropa dibanding Amerika Serikat, dan kini perkembangan politik serta ekonomi membuat kemiripan itu semakin nyata. Ia bahkan menyebut adanya pembicaraan soal Kanada menjadi anggota asosiasi Uni Eropa, sebuah gagasan yang ia sukai. Marsch menilai Kanada jauh lebih multietnis dibanding kebanyakan negara, sehingga identitasnya tidak lagi sekadar negara Amerika Utara.
Perubahan identitas itu, menurut Marsch, berdampak positif bagi sepak bola Kanada. Keragaman penduduk tercermin pada komposisi tim dan basis penggemar mereka. Dengan kata lain, arah politik negara dan arah pembangunan tim nasional dinilainya berjalan seiring.
Pujian untuk Mark Carney dan Sindiran soal Presiden AS
Marsch secara terbuka memuji Carney, yang sempat menghadiri sejumlah pertandingan Kanada di Piala Dunia. Menurutnya, Carney adalah sosok yang cerdas sekaligus sangat membumi. Ia lantas membandingkan Carney dengan presiden-presiden Amerika Serikat yang pernah ia temui secara langsung, mulai dari Clinton, George Bush Sr, Obama, Trump, Biden, hingga Carter, atau enam orang secara total.
Menurut Marsch, dari semua nama itu, Carney paling mirip dengan Obama. Ia merasakan aura kecerdasan yang kuat sekaligus kesan sebagai orang biasa. Kombinasi itulah yang dinilainya pas untuk Kanada pada momen seperti sekarang.
Marsch juga mengisahkan lelucon soal Carney yang disebutnya penggemar Everton. Ketika ia menyampaikan “turut prihatin” atas pilihan klub tersebut, Carney menanggapinya santai dan menegaskan bahwa setiap orang harus setia pada tim pilihannya. Marsch mengaku menghargai kesetiaan semacam itu, lalu menyindir bahwa kecil kemungkinan seorang presiden Amerika Serikat menjadi penggemar Everton.
Kisah tersebut memperlihatkan sisi lain Marsch, yang di satu sisi garang melawan sindiran Donald Trump soal “negara bagian ke-51”, namun di sisi lain tetap santai dalam percakapan ringan. Meski demikian, ia sulit menyembunyikan kekecewaannya terhadap Federasi Sepak Bola Amerika Serikat. Ia mengaku pernah dijanjikan sebuah posisi, tetapi tawaran itu kemudian dibatalkan, dan urusan itu masih membekas hingga kini.
Membangun Fase Kedua Proyek Timnas Kanada
Setelah membawa tim putra Kanada mencapai titik tertinggi dalam sejarah pada Piala Dunia musim panas, Marsch kini memasuki babak kedua kepelatihannya. Kontraknya diperpanjang empat tahun, dan mayoritas besar warga Kanada mengaku senang ia tetap memimpin. Beberapa aksinya di pinggir lapangan memang sempat mengganggu pihak luar, terutama di kampung halamannya sendiri, tetapi hal itu tidak menyurutkan dukungan.
Marsch sendiri mengakui, dengan nada bercanda, bahwa empat tahun ke depan terasa panjang. Meski begitu, ia punya target-target dekat yang jelas, yakni meraih trofi pertama dalam 25 tahun serta menembus dan mempertahankan posisi di 24 besar dunia.
Awal fase baru ini berjalan cukup solid. Kanada mengalahkan Chile di Toronto dan menang 2-0 atas Peru di Montreal dalam laga bertema “The Homecoming”. Sejumlah pemain baru mendapat kesempatan, sementara para pemain kunci datang dalam performa apik, terutama Jonathan David di Atlético Madrid. Kanada juga berhasil melewati absennya beberapa pemain karena cedera dan tidak hadirnya kapten Alphonso Davies, yang melewatkan jendela pertandingan ini untuk bulan madu.
Ujian berikutnya tetap berkaitan dengan Amerika Serikat. Laga melawan tim AS di Saint Paul pada Selasa akan memunculkan lagi pertanyaan-pertanyaan bernuansa Amerika bagi Marsch. Bagi pelatih yang juga warga Amerika itu, pertandingan tersebut bukan sekadar soal tiga poin.
Seruan Hukuman Berat untuk Manchester City
Marsch juga berbicara blak-blakan soal Manchester City. Kekalahan dari City pada musim 2022-23, ketika Leeds United yang ia tangani terpaut lima poin dari zona aman, membuatnya menilai ada ketidakadilan di sepak bola Inggris. Meski musim tersebut bukan bagian dari musim “palsu” dalam putusan terakhir terhadap City, ia yakin kecurangan yang ada turut merugikan timnya.
Menurut Marsch, Manchester City seharusnya dihukum berat, bahkan ia menyebut mereka layak turun kasta. Ia menegaskan bahwa banyak pihak sebenarnya sudah mengetahui persoalan tersebut sejak lama. Ia juga menyoroti Everton dan Nottingham Forest yang belakangan mendapat pengurangan poin atas masalah pada musim yang sama, saat Leeds terdegradasi di bawah keduanya.
Marsch menjelaskan bahwa pada musim panas 2022, Leeds dan Manchester City menjadi satu-satunya tim yang menyatakan menghasilkan uang. Leeds memang untung karena menjual Raphinha dan Kalvin Phillips, dan saat itu mereka tidak punya pemilik dengan kantong tebal sehingga harus berhemat. Ketika City mengklaim hal serupa, ia mengaku tidak percaya dan menganggapnya seperti lelucon.
Ia juga menyoroti transfer Erling Haaland yang disebut hanya seharga £52 juta. Angka itu, kata Marsch, terasa mustahil dan memperkuat dugaan adanya kejanggalan. Namun, ia menyimpulkan bahwa di dunia sepak bola, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengangkat tangan dan menerima kenyataan.
Di Balik Meme yang Viral
Selain sorotan soal City dan Amerika, Marsch masih diingat karena aksinya di pinggir lapangan saat Kanada melawan Qatar. Gerakannya memicu meme yang banyak dibagikan orang. Bahkan, ia mengaku kerap ditanya apa maksud gerakan tersebut, dan ada yang menyebutnya seperti alat pengiris daging. Gif hasil kejadian itu pun jadi bahan lelucon di grup WhatsApp keluarganya.
Marsch menanggapi hal itu dengan santai dan mengaku kadang tak paham dengan perilakunya sendiri. Begitu menyadari apa yang dilakukannya, ia langsung merasa seperti orang bodoh. Sikap santai itu menunjukkan sisi manusiawinya, sekaligus menegaskan bahwa ia tengah menikmati perannya sebagai salah satu sosok paling menonjol di sepak bola Kanada saat ini.
Dari kritik soal propaganda Amerika hingga pujian untuk Mark Carney, Jesse Marsch tampil sebagai lebih dari sekadar seorang pelatih. Ia adalah orang Amerika yang menetap di Eropa, memimpin Kanada, dan tak segan menyuarakan pandangannya soal politik, identitas, serta keadilan di sepak bola. Posisi unik itu membuat setiap ucapannya terasa berbobot, baik di dalam maupun di luar lapangan.
Ke depan, fokus Marsch tetap terbagi: membangun timnas Kanada menuju trofi dan peringkat yang lebih tinggi, sembari menghadapi pertanyaan-pertanyaan soal Amerika Serikat yang tampaknya tak akan pernah benar-benar hilang. Laga melawan AS serta perjalanan empat tahun berikutnya akan menjadi ujian atas seberapa jauh proyek yang ia bangun di Kanada.
