Pelanggaran Finansial Manchester City: Hukuman Harus Berat

Komisi independen menyatakan Manchester City terbukti bersalah atas hampir seluruh tuduhan yang diajukan Premier League. Dari sekian banyak dakwaan, hanya satu yang tidak terbukti. Temuan komisi tersebut menyimpulkan bahwa klub itu berbuat curang, melakukannya secara sengaja, dan kemudian berupaya menutupinya lewat kampanye informasi menyesatkan yang disusun dengan perhitungan matang.

Kasus pelanggaran finansial Manchester City ini bukan sekadar persoalan administratif atau salah tafsir atas aturan akuntansi. Setelah temuan komisi independen dipublikasikan, skala persoalannya menjadi jauh lebih jelas dan sulit dibantah. City tetap menyatakan dirinya tidak bersalah, dan perdebatan mengenai sanksi apa yang pantas dijatuhkan baru akan memasuki babak berikutnya.

Isi Putusan: Manipulasi Angka yang Disengaja

Dalam putusannya, komisi menemukan bahwa City melebih-lebihkan pendapatan mereka sekitar £855 juta dan menekan pengeluaran sekitar £66 juta. Angka-angka itu tidak lahir dari kekeliruan pembukuan, melainkan bagian dari upaya terencana untuk mengakali regulasi. Kesimpulan komisi menegaskan bahwa apa yang terjadi di klub tersebut bukan kecelakaan administratif, tetapi sebuah strategi.

Kesepakatan sponsor digambarkan sebagai “palsu” atau sham, yang berfungsi menyamarkan investasi pemilik klub. Nilainya disebut terlalu tinggi hingga £830 juta selama sembilan tahun dalam rentang waktu yang dipersoalkan. Menurut komisi, semua itu merupakan bagian dari “rencana untuk menyamarkan pendanaan pemegang saham … sebagai pendapatan mitra komersial”. Pendanaan dari pemilik, dengan kata lain, dikemas seolah-olah berasal dari kerja sama bisnis yang wajar.

Komisi juga menyoroti Fordham Agreement, sebuah pengaturan di mana suatu entitas membeli hak citra pemain. Perjanjian itu dinilai “tidak lebih dari sekadar kedok”. Ketika City berupaya menyatakan bahwa Premier League salah memahami cara kerja kesepakatan sponsor tersebut, komisi menilai penjelasan itu sebagai dalih yang “dirancang klub jauh setelah peristiwa terjadi, dalam upaya menyembunyikan dan mengaburkan realitas skema pendanaan terselubung”.

Temuan soal ketidakjujuran juga sangat mencolok. Terkait pengaturan sponsor yang bersifat sham itu, komisi mengidentifikasi adanya “perbuatan yang disengaja” untuk menyamarkan sifat sebenarnya dari sejumlah pendapatan serta liabilitas dan beban, agar klub tampak lebih mandiri secara finansial dari Abu Dhabi United Group. Tujuannya tidak lain memberi “kesan menyesatkan dalam laporan keuangan klub bahwa posisi keuangannya lebih baik daripada kenyataan sebenarnya”.

Upaya Menghambat Investigasi dan Kesaksian Palsu

Selain soal angka, komisi mencatat bahwa setelah didakwa, City “melakukan upaya terkoordinasi untuk menghentikan dan menggagalkan investigasi Premier League”. Panel menilai “keterangan dari sejumlah saksi fakta penting yang dipanggil untuk bersaksi atas nama klub tidak benar dalam beberapa hal krusial”. Lebih jauh, panel menyimpulkan bahwa sebagian saksi tersebut memberikan keterangan yang mereka sendiri tahu tidak benar, sehingga dinilai tidak jujur.

Pada sejumlah kesempatan, panel memutuskan bahwa mereka “tidak seharusnya menerima pendapat seorang ahli”. Alasan tepatnya diuraikan dalam lampiran, tetapi konteksnya memungkinkan sebuah kesimpulan ditarik. Satu-satunya dakwaan yang tidak terbukti adalah pelanggaran “kewajiban bekerja sama” dengan Premier League, dan itu pun hanya terkait satu kelompok tuduhan. Jelas bukan jalan keluar yang mungkin diharapkan sebagian pendukung City sejak putusan dibacakan.

Latar Belakang: Delapan Tahun Proses dan Preseden Everton

City berulang kali menegaskan bahwa mereka telah menjalani proses hukum dengan tertib selama delapan tahun. Dalam pernyataannya, klub menyebut putusan itu mengandung “kesalahan material yang jelas, baik dalam hukum, prinsip, maupun fakta, dan tidak aman”. Mereka juga kembali merujuk pada “kumpulan bukti menyeluruh yang tak terbantahkan” yang mereka klaim mendukung semua posisi mereka.

Chief Executive Ferran Soriano merilis video yang mengulang banyak poin serupa. Ia bersumpah klub akan mengajukan banding — dengan tenggat hingga Jumat — dan menempuh “semua jalur hukum lain” untuk membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Soriano menyebut dakwaan Premier League sebagai “teori konspirasi”, dan dengan sengaja menyebut komisi independen sebagai “Komisi Premier League”. Ia juga menyatakan bahwa seluruh dakwaan bertumpu pada “satu tuduhan palsu” soal pengalihan dana dari pemilik ke klub dengan kedok pembayaran sponsor, sesuatu yang menurutnya “tidak mungkin terjadi dan … memang tidak terjadi”.

Untuk memahami mengapa sanksi kali ini berpotensi jauh lebih berat, preseden Everton menjadi pembanding yang penting. Everton kehilangan total delapan poin dalam dua periode pembukuan karena pelanggaran aturan profitabilitas dan keberlanjutan yang nilainya sekitar £20 juta — dan itu bersifat tidak sengaja, serta mereka bekerja sama dengan penyelidikan. Sementara itu, temuan terhadap City menunjukkan pelanggaran yang disengaja dan berskala jauh lebih besar.

Sejarah juga memberi konteks. Tiga skandal keuangan besar sebelumnya di kompetisi papan atas Inggris berpusat pada pelanggaran batas upah maksimum, sesuatu yang pada masa itu dilakukan banyak klub: Manchester City pada 1906, Leeds City pada 1919, dan Sunderland pada 1957. Kasus kali ini sama sekali berbeda. Temuan komisi menggambarkannya sebagai penipuan terbesar yang pernah dilakukan terhadap sepak bola Inggris, karena bentuknya adalah penyesatan dalam skala masif, bukan pelanggaran aturan yang lazim terjadi di zamannya.

Dampak: Reputasi, Kepercayaan, dan Ancaman Eksklusi

Sanksi apa pun akan dibahas secara terpisah dalam sidang lanjutan bersama komisi independen. Namun sulit membaca putusan itu tanpa menyimpulkan bahwa hukumannya harus sangat berat. Reputasi dan integritas Abu Dhabi United Group, pemilik mayoritas City dengan porsi 81%, kini terpuruk, tercabik dalam bahasa hukum yang disusun dengan hati-hati dan terukur. Lampiran putusan, jika dan ketika dipublikasikan, berpotensi membuat posisi mereka makin sulit.

Bahkan bila ada celah teknis yang meringankan hukuman, posisi mereka sulit dibayangkan pulih sepenuhnya. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah bagaimana City, setidaknya di bawah kepemilikan saat ini, bisa dipercaya lagi. Bagaimana mereka bisa terus bermain musim ini, berpura-pura semuanya baik-baik saja, sambil menunggu banding dan sanksi, padahal mereka telah dinyatakan bersalah atas dakwaan sebesar itu?

Premier League dibentuk oleh 20 klub anggotanya. Dalam kerangka itu, City telah merugikan 19 klub lainnya. Mereka juga dinilai terus berbohong secara konsisten dan sengaja, dan penyangkalan yang berlanjut hanya memperkuat kesan bahwa klub ini tidak menghormati regulasi yang mengikat seluruh pesertanya.

Konteks Lebih Luas: Integritas Kompetisi dan Babak Berikutnya

Kasus ini menyentuh hal yang lebih mendasar daripada satu klub atau satu musim. Jika sebuah klub terbukti melakukan pelanggaran finansial selama rentang 2009-10 hingga 2017-18, muncul pertanyaan sulit soal bagaimana namanya bisa tetap tertera di daftar kehormatan Premier League. Gelar dan pencapaian yang diraih dalam periode itu otomatis berada di bawah bayang-bayang temuan komisi.

Yang berikutnya akan terjadi sudah bisa diperkirakan kerangkanya. City memiliki batas waktu hingga Jumat untuk mengajukan banding, dan mereka menyatakan akan menempuh semua jalur hukum yang tersedia. Setelah itu, sidang terpisah akan menentukan bentuk dan besaran sanksi. Publikasi lampiran putusan, bila terwujud, kemungkinan menambah tekanan baru bagi klub maupun pihak-pihak yang terlibat.

Pada akhirnya, keputusan mengenai sanksi akan menjadi ujian bagi kredibilitas Premier League sendiri. Regulasi keuangan hanya bermakna jika pelanggarannya ditindak setimpal, terutama ketika pelanggaran itu dilakukan secara sengaja dan berlangsung bertahun-tahun. Jika hukuman yang dijatuhkan terlalu ringan, pesan yang terkirim ke seluruh klub anggota justru bisa merusak aturan itu sendiri.

Putusan komisi independen telah menutup ruang bagi tafsir yang meringankan. City terbukti melakukan pelanggaran finansial secara sengaja, menyamarkan pendanaan pemilik sebagai pendapatan komersial, dan berupaya menghambat investigasi. Klub tetap membantah dan bersiap menempuh jalur banding, sementara proses penentuan sanksi baru akan dimulai. Apa pun hasilnya nanti, satu hal sudah jelas: kasus ini akan dikenang sebagai salah satu babak paling gelap dalam sejarah sepak bola Inggris, dan cara Premier League menutupnya akan menentukan apakah aturannya masih layak dipercaya.