Gol Penalti Raúl Jiménez Selamatkan Wolves dari Blackburn

Raúl Jiménez menjadi pahlawan Wolverhampton Wanderers di laga perdana mereka di Championship. Striker asal Meksiko itu mencetak gol penalti pada masa injury time yang menyelamatkan Wolves dari kekalahan memalukan melawan Blackburn Rovers di Molineux. Gol ini sekaligus menjadi penanda manis kembalinya ia ke klub yang pernah membesarkan namanya di sepak bola Inggris.

Laga ini memiliki makna besar bagi Wolves yang baru saja terdegradasi dari Premier League dan tengah membangun ulang kepercayaan diri. Kembalinya Jiménez adalah bagian dari upaya itu, begitu pula hadirnya pelatih anyar César Peixoto. Namun, hasil imbang 2-2 ini justru menjadi peringatan bahwa jalan kembali ke papan atas tidak akan semulus yang dibayangkan.

Raúl Jiménez Cetak Penalti Injury Time untuk Wolves

Penalti yang menjadi gol penyelamat itu berawal dari umpan silang Jackson Tchatchoua yang membentur lengan pemain belakang Blackburn, Ryan Alebiosu. Wasit pun menunjuk titik putih, keputusan yang andai VAR masih dipakai bakal memicu perdebatan panjang soal posisi Alebiosu saat bola mengenai lengannya. Namun, Championship tidak menggunakan VAR—satu-satunya hiburan kecil dari degradasi Wolves musim lalu.

Jiménez masuk dari bangku cadangan dan menuntaskan eksekusi penaltinya dengan tenang di menit akhir. Gol ini menjadi yang pertama bagi Jiménez dalam periode keduanya membela Wolves, sekaligus mengakhiri puasa golnya selama 1.311 hari. Sebelum kick-off, ia bahkan membeli syal untuk seluruh pendukung di tribun South Bank sebagai ungkapan terima kasih atas sambutan hangat mereka.

Kembalinya Jiménez ke Molineux: Dari Fulham ke Panggung ‘Si Señor’

Jiménez adalah figur yang sangat dihormati di Molineux, terutama setelah menjadi motor serangan Wolves era Nuno Espírito Santo. Ia membawa tim menembus fase-fase akhir Piala FA dan Liga Europa sebelum cedera kepala yang mengerikan mengubah segalanya. Setelah meninggalkan klub untuk bergabung dengan Fulham, kepulangannya kini disambut dengan harapan besar.

Performa Jiménez bersama Meksiko di Piala Dunia, termasuk mencetak gol ke gawang Inggris, membuat namanya kembali diperhitungkan. Namun, turnamen itu juga membuat persiapan pramusimnya bersama Wolves berjalan lebih lambat dari pemain lainnya. Peixoto pun memilih berhati-hati dengan menempatkannya di bangku cadangan sebelum akhirnya memberikan kepercayaan di masa injury time.

Peixoto menegaskan bahwa Jiménez tetap menjadi bagian penting dalam rencananya. “Dia striker penting. Dia hidup untuk mencetak gol dan membuat gol. Raúl adalah pemain kunci bagi kami,” ujar pelatih asal Portugal itu. “Dia membantu tim di dalam dan luar lapangan, tetapi kami harus menjaganya perlahan karena usianya 35 tahun dan baru kembali dari Piala Dunia. Kami ingin dia tetap dalam kondisi baik, dan mencetak gol untuk kami adalah kabar baik baginya dan bagi tim.”

Munetsi Sempat Bikin Molineux Bergemuruh, Blackburn Balas Dua Gol

Wolves sebenarnya membuka laga dengan percaya diri tinggi. Marshall Munetsi, gelandang Zimbabwe yang baru kembali dari masa pinjaman di Paris FC, membawa tuan rumah unggul lebih dulu lewat penyelesaian kaki kiri yang indah. Gol itu lahir dari umpan manis Fer López yang membelah pertahanan Blackburn.

Molineux tampak diselimuti sinar matahari keemasan dan optimisme yang meninggi saat kick-off. Namun, tekanan tinggi khas Peixoto yang semula dikagumi mulai jebol ketika para pemain “bermain dengan hati, bukan kepala”. Taktik tersebut menyisakan celah besar saat transisi, dan Blackburn yang tidak diunggulkan berulang kali menusuk dari sisi sayap.

Dari umpan silang apik Ryoya Morishita, Sean McLoughlin menyundul bola melewati Dan Bentley untuk menyamakan kedudukan. Blackburn, yang musim lalu hanya finis di posisi ke-20, terus memanfaatkan lini belakang Wolves yang rapuh. Oladapo Afolayan sempat memaksa Bentley bereaksi sebelum akhirnya kembali mendapatkan ruang bebas dan mengirim umpan silang yang dituntaskan Andri Gudjohnsen menjadi gol kedua.

Di sisi kiri pertahanan Wolves, David Møller Wolfe yang menggantikan Hugo Bueno yang cedera tampak belum bugar penuh. Bek Norwegia itu baru saja berjuang di Piala Dunia, dan kesegarannya diragukan sepanjang laga. Peixoto pun mengakui timnya kehilangan organisasi: “Tim kehilangan sedikit organisasi dan bermain dengan hati, bukan kepala. Ini pelajaran bagi kami ke depan, kami harus menjaga stabilitas mental selama 90 menit.”

Keputusan Penalti Memicu Protes Keras Tony Mowbray

Di kubu lawan, keputusan penalti itu menuai protes keras dari Tony Mowbray. Pelatih Blackburn itu mengaku analisnya menunjukkan dua sudut pandang berbeda terkait insiden Alebiosu. “Saya baru saja diperlihatkan satu sudut pandang oleh analis saya di mana dia berada di luar kotak penalti; sudut lain menunjukkan dia tepat di dalam kotak,” ungkap mantan manajer West Brom tersebut.

Mowbray juga menyebut keputusan wasit semakin berpihak pada tuan rumah. “Saya merasa semakin banyak keputusan yang mulai menguntungkan mereka. Ini pahit untuk diterima karena saya tidak berpikir mereka layak mendapatkan gol kedua itu,” tegasnya. Baginya, Blackburn pantas membawa pulang kemenangan dari Molineux setelah tampil lebih terorganisasi.

Pelajaran Berharga untuk Peixoto dan Wolves

Hasil imbang ini menjadi ujian pertama bagi Peixoto yang ditunjuk menggantikan Rob Edwards. Keputusan klub merekrut pelatih tanpa pengalaman di sepak bola Inggris memang berisiko, dan membawa Gil Vicente ke posisi keenam Liga Portugal tidak otomatis menjamin kesuksesan. Para petinggi Wolves sadar bahwa kesabaran pendukung sedang menipis setelah musim yang mengecewakan.

Kepercayaan diri adalah komoditas yang rapuh, dan Wolves harus segera menemukan kembali keseimbangan mereka. Keunggulan cepat lewat Munetsi menunjukkan kualitas individu yang dimiliki, tetapi organisasi permainan yang berantakan menjadi pekerjaan rumah besar. Jika tidak segera dibenahi, target promosi langsung bisa berubah menjadi mimpi yang jauh.

Fer López Bersinar, Jiménez Jawab Tantangan

Di tengah kekacauan itu, Fer López tampil sebagai pemain paling menonjol di lapangan. Pemain Spanyol yang kembali dari masa pinjaman di Celta Vigo itu diundang untuk menjadikan posisi No 10 sebagai miliknya. Ia nyaris mengembalikan keunggulan Wolves andai tembakan melengkungnya tidak melebar tipis dari gawang Blackburn.

Namun panggung malam itu tetap milik Raúl Jiménez. Saat laga memasuki menit ke-60, tribun South Bank sudah mengibaskan syal di atas kepala sambil meneriakkan “Si Señor” untuk sang veteran. Pertanyaannya sederhana: mampukah