Enzo Maresca dan Tantangan Mengikuti Jejak Guardiola
Ketika Khaldoon al-Mubarak menyambut Enzo Maresca dengan hangat sebagai manajer baru Manchester City, ia berkata, “Selamat datang di rumah.” Kini, setelah dua periode sebelumnya di klub, tugas pelatih asal Italia itu adalah menjaga kepuasan ketua klub dan memastikan kontrak tiga tahunnya tidak berakhir lebih cepat. Untuk mencapai itu, masa kepemimpinan Maresca harus melanjutkan warisan gemilang Pep Guardiola yang telah meraih 20 trofi dalam satu dekade keunggulan.
Kunci sukses Manchester City di bawah asuhan pelatih berusia 46 tahun ini dapat diringkas dalam dua kata: “Pertahankan Rodri.” Namun, dengan Real Madrid yang hampir pasti akan melancarkan tawaran untuk gelandang nomor 6 yang tiada tanding, dan keinginannya untuk bermain bagi raksasa Spanyol, kepergian Rodri dari City mungkin tak terhindarkan.
Mengapa Rodri Begitu Vital bagi City?
Harapan terbaik Maresca untuk menghindari “menjadi David Moyes” — yang menggantikan Sir Alex Ferguson di Manchester United pada Mei 2013 dan hanya bertahan 34 pertandingan Premier League — adalah dengan mempertahankan Rodri. Gelandang Spanyol berusia 30 tahun ini baru saja memimpin negaranya meraih gelar Piala Dunia dan meraih Bola Emas sebagai pemain terbaik turnamen. Kontraknya berlaku hingga Juni, dan City menyatakan tidak berniat menjualnya serta terus berusaha meyakinkannya menandatangani perpanjangan yang sudah ditawarkan sejak lama.
Mengatakan bahwa City akan tetap menjadi pesaing gelar musim depan jika Rodri bertahan mungkin terdengar sederhana, sampai Anda meneliti CV-nya dan diingatkan akan peran pentingnya. Rodri menjadi kunci keberhasilan treble City, termasuk mencetak gol kemenangan di final Liga Champions melawan Inter. Ia juga menjadi bagian dari rangkaian 74 pertandingan tak terkalahkan bersama City sejak Februari 2023 hingga Mei 2024. Pep Guardiola pernah berkata, “Dia luar biasa, tak tergantikan. Gelandang terbaik di dunia, jauh di atas yang lain.”
Pengaruh Rodri di Level Domestik dan Internasional
Keberhasilan di Piala Dunia ini juga datang setelah Rodri menjadi bagian dari kemenangan Spanyol di Euro 2024 dan Piala Dunia Antarklub 2023, di mana ia kembali terpilih sebagai pemain terbaik turnamen. Namun, dalam dua musim sebelum Piala Dunia, cedera menghantuinya. Akibatnya, City gagal meraih gelar Premier League di kedua musim tersebut, menghentikan rekor empat gelar beruntun Guardiola.
Kemampuan Rodri dalam mengendalikan pertandingan kembali terlihat di Piala Dunia, contohnya saat ia mencekik Prancis di semifinal. Di level domestik maupun internasional, kualitas ini tak ternilai. Jika Maresca bisa menurunkan Rodri, City akan tetap ditakuti di liga dan benua Eropa. Cedera punggung yang membuat Rodri menjalani operasi pada Senin lalu tergolong ringan, tetapi keinginannya untuk memperluas wawasan klub — terutama di Spanyol — masih ada. Tidak ada kepastian ia akan bertahan, apalagi setelah resistensi awal presiden Real Madrid Florentino Pérez terhadap Rodri berubah, mungkin karena kebangkitannya di Piala Dunia dan kembalinya José Mourinho sebagai pelatih kepala yang membutuhkan ketenangan dan keanggunan Rodri.
Investasi City dan Kelas Rodri yang Tak Tergantikan
Manchester City telah menginvestasikan £116 juta untuk Elliot Anderson musim panas ini, seorang gelandang utama timnas Inggris yang mungkin akan bergabung dengan gelandang lain dari Lille, Ayyoub Bouaddi (18 tahun) yang juga tampil impresif di Piala Dunia bersama Maroko, dengan biaya sekitar £85 juta. Namun, baik Anderson, Bouaddi, Tijjani Reijnders, Mateo Kovacic, maupun Nico González tidak dapat mengklaim berada di kelas Rodri, yang kemungkinan besar akan meraih Ballon d’Or kedua setelah aksinya di Piala Dunia.
Pengalaman Maresca dan Perbandingan dengan Moyes
Maresca memenangkan Championship bersama Leicester pada 2024, kemudian membawa Chelsea ke posisi keempat Premier League dan meraih gelar Conference League musim berikutnya. Ia juga menjuarai Piala Dunia Antarklub yang diperluas, termasuk kemenangan 3-0 atas Paris Saint-Germain di final. Semua ini meyakinkan al-Mubarak dan CEO Ferran Soriano bahwa Maresca adalah orang yang bisa sukses setelah era Guardiola.
Namun, seperti yang disinggung Maresca dalam konferensi pers perkenalannya — dengan frasa “setelah Sir Alex” — mengikuti langsung sosok hebat bisa berbahaya. Perbandingan dengan Moyes memang kurang tepat. Moyes tiba di United tanpa piala dan tanpa pengalaman tekanan klub elite. Sebaliknya, Maresca memiliki pengalaman satu setengah musim di lingkungan panas Chelsea dan, dengan pengalaman sebelumnya di City, ia sudah paham organisasi tempatnya kini memainkan peran penting.
Masa Depan Rodri: Antara City dan Real Madrid
City masih memiliki lima minggu bursa transfer untuk meyakinkan Rodri bahwa masa depannya ada di klub. Sikap Guardiola selalu tidak menghalangi pemain yang ingin pergi. Logikanya sederhana: apa gunanya mempertahankan karyawan yang tidak bahagia? Dalam kasus ini, Rodri juga ingin kembali ke kota kelahirannya. “Bermain untuk Atlético Madrid sebelumnya tidak akan menghalangi saya bermain untuk Real Madrid,” ujar Rodri pada Maret lalu. “Ada pemain lain yang melakukan itu sebelumnya. Mungkin bukan transfer langsung, tapi pada akhirnya. Anda tidak bisa menolak salah satu klub terbaik dunia.”
Bahkan boikot Real Madrid atas upacara Ballon d’Or Rodri pada November 2024 — sebagai protes atas kegagalan Vinícius Júnior memenangkan suara — jelas tidak menghalangi gelandang ini untuk menganggap Bernabéu bisa menjadi rumah, sama seperti al-Mubarak menyebut City sebagai rumah bagi Maresca.
Kesimpulan: Kunci Sukses Manchester City di Tangan Rodri
Kunci sukses Manchester City di era Enzo Maresca sangat bergantung pada apakah Rodri bertahan atau tidak. Tanpa Rodri, City kehilangan elemen pengontrol permainan yang tak tergantikan. Dengan Rodri, Maresca memiliki fondasi untuk melanjutkan dominasi Guardiola. Sisa bursa transfer akan menjadi penentu apakah City mampu mempertahankan aset paling berharga mereka, atau harus mulai membangun ulang tanpa sang maestro lini tengah.
